Habibahsirojudin’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Purwakarta buka lowongan kerja

Assalamualaikum wr. wb.

kapungkur, basa hoyong janten pns meuni tigagaledor milarian info ….. iraha … penerimaan pns teh??? milarian di koran, majalah, bur ber kaitu kadieu, pasesedek di diknas sareng depag kutrat kutret nyerat persyaratan…. tapi alhamdulillah ari ku jaman ayeuna tinggal klak klik klek muka internet, kapendak weh info teh, kumargi kitu kanggo nghalancarkeun anu bararade tur hararoyong  tur mararinat mangga klik  formasi-cpns-2008

November 14, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Jangan Bersedih para Muslimah

TIPS-TIPS
UNTUK MENJADI ORANG YANG PALING BAHAGIA

 Keimanan menghapuskan keresahan, dan melenyapkan kegundahan. Keimanan adalah kesenangan yang diburu oleh orang-orang yang bertauhid dan hiburan bagi orang-orang yang ahli ibadah.
 Yang lalu telah berlalu , dan yang telah pergi telah mati. Jangan dipikirkan yang telah lalu karena telah pergi dan selesai.
 Terimalah qadha yang telah pasti dan rezki yang telah dibagi itu dengan hati terbuka. Segala sesuatu itu ada ukurannya. Karenanya, enyahkan kegelisahan.
 Ketahuilah bahwa dengan mengingat ﺍﷲ hati akan menjadi tenteram, dosa akan diabaikan, ﺍﷲ akan menjadi ridha, dan tekanan hidup akan terasa ringan.
 Jangan menanti ucapan terima kasih dari sesama. Cukuplah pahala dari Dzat yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Tak ada yang harus anda lakukan terhadap orang yang membangkang, mendengki, dan iri.
 Ketika waktu pagi tiba, jangan menunggu sampai sore. Hiduplah dalam batasan hari ini. Kerahkan seluruh semangat yang ada untuk menjadi lebih baik di hari ini.
 Biarkan masa depan itu hingga dia datang sendiri, dan jangan terlalu berkepentingan dengan hari esok. Karena jika anda melakukan terbaik di hari ini maka hari esok juga akan baik.
 Bersihkan jiwa dari dengki, dan jernihkan dari iri. Keluarkan penyakit permusuhan dan percekcokan dari dalam jiwa.
 Hindarilah sesama manusia kecuali untuk perbuatan baik. Jadilah orang yang senantiasa berada di dalam rumah, hadapilah hal-hal yang ada kepentingannya dengan diri anda, dan kurangilah berbaur dengan banyak orang.
 Buku adalah teman yang paling baik. Bercakap-cakaplah dengan buku, bersahabatlah dengan ilmu, dan bertemanlah dengan pengetahuan.
 Semesta ini dibangun di atas sebuah keteraturan. Karena itu, pakaian, rumah, meja, dan kewajiban anda harus dikerjakan dengan rapi.
 Keluarlah ke tempat yang lapang, lihatlah kebun-kebun nan indah, dan sibaklah ciptaan dan kreasi Sang Pencipta.
 Anda harus berjalan-jalan dan berolah raga. Jauhi kemalasan dan ketidakberdayaan. Tinggalkan kekosongan dan pengangguran.
 Bacalah sejarah, pikirkan keajaiban-keajaibannya, renungkan keanehan-keanehannya, simak kisah-kisah dan kabar-kabarnya.
 Perbaharuilah hidup anda. Jadikan hidup anda lebih bervariasi. Ubahlah rutinitas hidup anda.
 Jauhi dan kurangi makanan-makanan perangsang misalnya, kopi dan teh, dan hati-hatilah terhadap rokok, syisya, dan yang lainnya.
 Perhatian kebersihan pakaian. Perhatikan bau badan. Perhatikan penampilan luar. Jangan lupa menggosok gigi dan memakai parfum.
 Jangan membaca buku-buku yang memanjakan pesimisme dan putus asa.
 Ingatlah bahwa Rabb sangat luas ampunan-Nya, menerima taubat, mengampuni hamba-hamba-Nya, dan menggantikan kejahatan dengan kebaikan.
 Bersyukurlah kepada Rabb atas nikmat agama, akal, kesehatan, penutup (aib), pendengaran, penglihatan, rezki, keluarga, serta nikmat-nikmat lainnya.
 Tidakkah anda tahu bahwa diantara manusia itu ada yang hilang akalnya, terampas kesehatannya, dipenjarakan, dilumpuhkan, atau ditimpakan bencana?
 Hiduplah bersama al-Qur’an, baik dengan cara menghapal, membaca, mendengarkan, atau merenungkannya. Sebab ini merupakan obat paling mujarab untuk mengusir kesedihan dan kedukaan.
 Bertawakallah kepada ﺍﷲ dan serahkan semua perkara kepada-Nya. Terimalah semua ketentuan-Nya dengan sepenuh hati, berlindunglah kepada-Nya, dan bergantunglah kepada-Nya karena sesungguhnya Dia cukup sebagai pelindungmu.
 Maafkanlah orang yang pernah melakukan kezhaliman kepada anda, sambunglah tali silaturahmi dengan anda, berilah orang yang pernah tidak pernah memberi kepada anda, dan bersabarlah terhadap orang yang berbuat jahat kepada anda niscaya anda akan memperoleh rasa bahagia dan aman dalam diri anda.
 Bacalah secara berulang-ulang la hawla wala quwwata illa billahi, karena bacaan ini akan membuat hati menjadi tenteram, memperbaiki keadaan, membuat yang berat menjadi ringan, dan membuat Yang Maha Kuasa menjadi ridha.
 Perbanyaklah membaca istighfar, sebab dengan istighfar akan ada rezki, akan ada jalan keluar, akan ada keluarga, akan ada ilmu yang berguna, akan ada kemudahan, dan akan ada penghapusan dosa.
 Terimalah bentuk wajah, bakat, pemasukan, dan keluarga dengan kelegaan hati niscaya anda akan mendapatkan ketenteraman dan kebahagiaan.
 Ketahuilah bahwa setelah kesulitan itu akan ada kemudahan, dan setelah kesulitan itu akan ada jalan keluar. Ketahuilah bahwa keadaan seseorang itu tidak akan tetap selamanya. Hari-hari itu akan senantiasa bergulir.
 Optimislah, jangan pernah berputus asa dan jangan pula menyerah tanpa usaha. Berbaiksangkalah kepada Rabb. Dan, tunggulah segala kebaikan dan keindahan dari-Nya.
 Terimalah pilihan ﺍﷲ untuk anda dengan gembira. Sebab anda tidak tahu tentang kemashlahatan. Bisa jadi kesulitan itu baik daripada kemudahan.
 Ujian itu akan mendekatkan jarak antara diri anda dengan Rabb, akan mengajarkan kepada diri anda bagaimana berdoa, dan akan menghilangkan kesombongan, ujub, dan rasa bangga diri dari diri anda.
 Anda membawa banyak kenikmatan dalam diri anda, dan membawa pundi-pundi kebaikan yang ﺍﷲ karuniakan kepada diri anda.
 Berbuatbaiklah kepada sesama, dan baktikan kebaikan kepada semua orang agar anda akan mendapatkan kebahagiaan dari menjenguk orang sakit, dari memberi sesuatu kepada orang yang membutuhkan, dan dari mengasihi anak yatim.
 Jauhilah buruk sangka, buanglah angan-angan, khayalan-khayalan yang merusak, dan pikiran-pikiran yang sakit.
 Ketahuilah bahwa anda bukan satu-satunya orang yang mendapat ujian. Tidak seorang pun yang lepas dari kesedihan, dan tidak seorang pun luput dari kesulitan.
 Yakinlah bahwa dunia ini adalah tempat cobaan, ujian, tantangan, dan kesedihan. Karena itu, terimalah ia apa adanya dan mintalah pertolongan kepada ﺍﷲ.
 Belajarlah dari orang-rang yang telah terdahulu; yang pernah dikucilkan, yang pernah dipenjarakan, yang pernah dibunuh, yang pernah diuji, dan yang pernah dibuang dan dikeluarkan dari negerinya.
 Pahala dari semua yang menimpa anda ada pada ﺍﷲ, baik itu kesedihan, keresahan, kelaparan, kefakiran, rasa sakit, hutang, dan musibah-musibah yang lain.
 Ketahuilah bahwa kesulitan itu akan membuka pendengaran dan penglihatan, menghidupkan hati, mendewasakan jiwa, mengingatkan, hamba dan menambah pahala.
 Jangan menerka-nerka peristiwa, jangan menunggu keburukan, jangan percaya terhadap semua kabar yang tidak jelas, dan jangan menelan mentah-mentah cerita-cerita yang tidak benar.
 Kebanyakan yang ditakuti orang itu tidak pernah terjadi. Kebanyakan berita-berita yang menakutkan itu tidak pernah terjadi. Di sisi ﺍﷲ lah semua kecukupan, dan di sisi ﺍﷲ lah semua pengawasan dan pertolongan.
 Jangan banyak bergaul dengan orang-orang pendendam dan jangan pula dengan orang-orang pengangguran serta pendengki. Sebab mereka adalah penyakit jiwa, pembawa kesedihan dan keresahan.
 Usahakan melakukan takbiratul ihram bersama-sama, perbanyaklah berdiam diri di masjid, dan biasakan dirimu untuk menyegerakan Shalat agar anda mendapatkan kebahagiaan.
 Jauhilah dosa-dosa sebab dia adalah sumber keresahan dan kesedihan dan adalah penyebab dan pintu ke arah musibah dan keadaan tertekan.
 Bacalah selalu la ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh zhalimin, sebab doa ini memiliki rahasia yang sangat ajaib untuk melepaskan seseorang dari kesulitan, dan merupakan berita yang agung tentang dihapuskannya cobaan.
 Jangan terpengaruh dengan perkataan jelek dan ungkapan keji yang dikatakan tentang diri anda karena karena itu akan menyakiti orang yang mengatakannya, dan bukan diri anda sendiri.
 Cercaan musuh dan umpatan orang-orang yang dengki kepada diri anda setara dengan nilai diri anda, sebab kini anda menjadi bahan omongan, dan seorang yang penting.
 Ketahuilah orang yang mengghibah anda berarti menyetorkan kabaikan-kebaikannya kepada anda dan menjadikan diri anda orang yang terkenal, tentu saja yang demikian ini adalah nikmat
 Jangan terlalu ketat menekan diri untuk melakukan ibadah. Lakukan yang sunah dan ketaatan yang sedang-sedang saja. Tempuhlah jalan pertengahan, dan jangan berlebihan.
 Tuluskan tauhid anda untuk rabb agar hati terbuka. Sejernih mana tauhid anda dan sebersih mana keikhlasan anda maka sejernih dan sebersih itu pulalah kebahagiaan anda.
 Jadilah sosok pemberani yang berhati teguh dan berjiwa kuat. Anda memiliki semangat dan tekad. Jangan sekali-kali anda termakan oleh rumor dan cerita-cerita yang tidak benar.
 Jadilah orang dermawan sebab orang yang dermawan hatinya akan selalu lapang dan jiwanya luas. Sedangkan orang yang pelit hatinya pengap dan nuraninya kotor.
 Tersenyumlah kepada siapa saja niscaya anda akan mendapatkan cinta kasih mereka. Haluskan tutur kata anda niscaya niscaya mereka akan mencintamu. Dan, rendahkan hati kepada mereka niscaya mereka akan menghormati anda.
 Balaslah perbuatan yang baikdengan yang lebih baik, Berbuat baiklah dengan sesama , padamkan semua api permusuhan, berdamailah dengan musuh, dan perbanyaklah teman.
 Pintu kebahagiaan terbesar adalah doa kedua orang tua. Berusahalah mendapatkan doa itu dengan berbakti kepada mereka berdua agar doa mereka menjadi benteng yang kuat yang menjagamu dari semua hal yang tidak anda sukai.
 Hadapilah manusia itu apa adanya dan maafkan apa yang mereka lakukan. Ketahuliah bahwa ini merupaka sunnah ﺍﷲ pada manusia dan kehidupan itu sendiri.
 Jangan hidup dalam idealisme-idealisme, tapi hiduplah dengan realita. Dengan hidup dalam ideal-ideal anda menginginkan dari orang lain apa yang tidak dapat anda lakukan. Karena itu jadilah orang yang obyektif (dalam melihat kenyataan).
 Hiduplah sederhana, dan jauhi semua bentuk foya-foya dan pemborosan. Sebab setiap kali badan diajak berfoya-foya maka jiwa akan semakin terhimpit.
 Lakukanlah dzikir-dzikir tertentu sebab ia akan menjadi enjaga dan pelindung anda . Dan didalamnya ada kebenaran dan petunjuk yang akan membuat waktu-waktu anda menjadi lebih bermakna.
 Rencanakanlah pekerjaan-pekerjaan itu , dalam menggabungka dalam satu waktu . Rencanakanlah pekerjaan-pekerjaan itu akan anda kerjakan dalam satu rentang waktu tertentu , dan luangkan beberapa rentang waktu tertentu, dan luangka beberapa waktu diantaranya untuk istirahat agar optimal.
 Lihatlah orang yang lebih rendah dari diri anda dalam hal tubuh, rupa, harta, rumah, pekerjaan, dan keluarga agar anda mengerti bahwa yang lebih rendah dari anda dalam hal-hal dimaksud masih ribuan.
 Tanamkan dalam keyakinan anda bahwa siapa saja yang menjalin komunikasi dengan anda tidak terlepas dari cela, baik itu saudara, anak, isteri, kerabat maupun teman, karenanya persiapkan diri anda untuk menerima semua.
 Maksimalkan bakat yang diberikan kepada diri anda, ilmu yang anda sukai, rezki yang dikaruniakan kepada diri anda, dan pekerjaan yang cocok untuk anda.
 Hati-hati, jangan sekali-kali melukai perasaan seseorang dan kelompok. Jadikan lisan itu lurus, bicaranya baik, kata-katanya segar, dan isi pembicaraannya terjaga dari hal-hal buruk.
 Ketahuilah bahwa kesabaran itu akan mengubur aib-aib, ketabahan itu akan menjadi penutup bagi kekeliruan, dan kedermawanan itu adalah pakaian yang besar yang akan menutup semua kekurangan dan cacat.
 Menyendirilah beberapa saaat untuk merenungkan hal-hal yang anda hadapi, untuk introspeksi diri, untuk memikirkan akhirat, dan untuk memperbaiki dunia.
 Perpustakaan pribadi anda adalah kebun yang rindang dan taman yang penuh dengan bunga-bunga di sekitar rumah anda. Nikmatilah kebun dan taman itu bersama dengan para ulama, para bijak, para sastrawan, dan para penyair.
 Carilah rezki yang halal, dan jauhi rezki yang haram, hindarkan dirimu untuk meminta-minta kepada yang lain. Berdagang itu lebih baik daripada menjadi pegawai. Gunakan uangmu untuk berdagang, dan hiduplah dengan sederhana.
 Berpakaianlah secara sederhana, bukan cara berpakaian orang-orang yang berlebih-lebihan, juga bukan meniru pakaian orang-orang gembel. Jangan mencari popularitas dengan pakaian, seperti umumnya orang.
 Jangan marah, sebab marah hanya akan merusak keadaan jiwa, merubah perilaku, memperburuk pergaulan, merusak cinta, dan memutuskan tali silaturahmi.
 Sekali waktu lakukanlah perjalanan untuk menyegarkan kembali suasana hidup, untuk melihat perihal dunia di luar dunianya, untuk melihat hal-hal baru, negeri-negeri yang lain. Perjalanan adalah sebuah kenikmatan tersendiri.
 Bawalah selalu catatan kecil di dalam kantong saku anda untuk mengatur pekerjaan dan waktu, mengingatkan anda akan janji-janji yang anda buat, dan untuk mencatat hal-hal yang penting menurut anda.
 Dahuluilah mengucapkan salam, ucapkan selamat dengan tersenyum, curahkan perhatian anda kepada mereka agar anda menjadi orang yang sangat mereka cintai dan dekat dengan mereka.
 Percayalah pada diri sendiri, dan jangan menggantungkan diri pada orang lain. Anggaplah bahwa mereka menjadi tanggungan anda, dan bukan anda yang menjadi tanggungan mereka, dan bahwa hanya ﺍﷲ yang bersama diri anda. Jangan tertipu dengan orang-orang yang selalu berfoya-foya.
 Hindari kata pengandaian “jika….maka nanti akan…..”, menangguhkan pekerjaan, dan menunda-nunda kewajiban. Sebab ini merupakan tanda kegagalan.
 Buanglah sikap ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Jangan bersikap plin-plan. Tapi, bersemangatlah, bulatkan tekad, dan maju.
 Jangan sia-siakan usia anda dengan sering gonta-ganti profesi, spesialisasi, dan pekerjaan. Sikap suka bergonta-ganti seperti ini menunjukan bahwa anda tidak pernah sukses dalam hal apapun.
 Bergembiralah dengan hal-hal yang bisa menghapuskan dosa-dosa misalnya amal soleh, musibah-musibah, taubat, doa, dri kaum muslimin, rahmat dari Yang Maha Pengasih dan syafaat Rasulullah.
 Biasakan untuk mengeluarkan sedekah walau hanya sedikit, karena sedekah akan memadamkan api kesalahan, menggembirakan hati, menghilangkan keresahan dan menambah rizki.
 Jadikan Nabi Muhammad sebagai suri tauladan, sebab dia adalah pemimpin yang menghantarkan kepada kebahagiaan yang menunjukan kepada kesuksesan, dan yang menghantarkan pada keberuntungan dan keberhasilan.
 Kunjungilah rumah sakit agar anda bisa merasakan bagaimananikmatnya kemerdekaan, dan datanglah ke rumah sakit jiwa agar anda menyadari bagaimana nikmatnya akal. Sebab jika anda tidak pernah mengunjungi tempat-tempat seperti itu secara langsung maka anda akan senantiasa berada dalam nikmat tapi tidak pernah menyadarinya.
 Jangan mau dihancurkan oleh hal-hal yang sepele, tapi juga jangan memperlakukan masalah lebih besardari kenyataannya yang sebenarnya, Berhati-hatilah jangan terlalu takut menghadapi masalah dan jangan terlalu membesar-besarkan masalah.
 Jadilah sosok yang berpandangan luas. Berusahalah untuk memaafkan siapa saja yang berbuat jahat kepadamu agar anda bisa menikmati hidup ini dengan damai dan tenang dan enyahkan jauh-jauh niatan untuk membalas dendam.
 Jangan buat musuh-musuh anda gembira, dengan kemarahan dan kesedihan anda. Sebab, itulah yang mereka mau. Karenanya jangan beri mereka kesempatan mereka untuk mewujudkan cita-cita mereka untuk mengotori kehidupan anda.
 Jangan menyalakan tungku didalam dada berupa permusuhan, kedengkian dan kebencian orang lain. Karena api permusuhan, kedengkian,dan kebencian ini adalah adzab yang abadi.
 Bersikaplah sopan dalam majelis, diam kecuali untuk sebuah kebaikan, dengan wajah berseri penuh rasa hormat kepada sesama majlis, mendengarkan apa yang mereka bicarakan, dan jangan sekali-kali memotong pembicaraan mereka.
 Jangan seperti lalat yang hanya hinggap diatas lika. Jangan menginjak-injak kehormatan orang lain, mengutak-atik aib mereka, merasa senang, dan bahkan, menginginkan kejatuhan mereka.
 Seorang mukmin tidak akan pernahbersedih dengan tidak tercapainya dunia, tidak pernah mempedulikannya, dan tidak pernah terguncang oleh katastrop. Sebab ia percaya bahwa dunia ini pasti akan sirna, tidak berharga, dan fana.
 Jauhi cinta yang berlebihan dan cinta yang dilarang, sebab itu adalah adzab bagi jiwa, dan penyakit bagi hati. Kembalilah kepada ﺍﷲ, kepada mengingat-Nya, dan kepada menaati-Nya.
 Melihat kepada yang diharamkan hanya akan menumbuhkan kesedihan, kegundahan dan luka di dalam hati. Sedangkan orang yang bahagia adalah orang yang merendahkan pandangnnya dan takut kepada Rabbnya.
 Makanlah dengan teratur. Makanlah makanan yang berguna, jangan terlalu kenyang, dan jangan tidur dalam keadaan kenyang.
 Bayangkan hal paling pahit ketika anda merasa takutmenghadapi masalah. Setelah itu, siapkan didrimu untuk menerima itu semua. Dengan kesiapan seperti itu, Anda akan merasakan ketenangan dan kemudahan.
 Jika tali telah menegang kencang maka itu tandanya akan putus. Jika malam telah sangat pekat maka kegelapan itu akan segera pergi. Jika sebuah masalah sudah sangat menghimpit maka itu tandanya akan segera muncul jalan keluar. Dan sesungguhnya satu kesulitan, tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan.
 Renungkanlah tentang rahmat Yang Maha Penyayang itu. Si Penyayang itu mengampuni pelacur yang hanya memberi minum seekor anjing, memaafkan orang yang telah membunuh seratus orang, meregangkan tangannya untuk menerima orang-orang Nashrani untuk bertaubat.
 Setelah lapar akan datang kenyang, setelah dahaga akan datang kesegaran, setelah sakit pasti ada kesembuhan, setelah kefakiran akan datang kekayaan, dan kesedihan itu selalu dibarengi oleh kebahagiaan. Inilah sunnah ﺍﷲ yang tidak bisa diganggu gugat.
 Renungkanlah surat Alam nasyrah laka shadrak, dan ingat ketika anda berada dalam kesulitan. Ketahuilah bahwa surat ini adalah obat paling mujarab untuk menghadapi tekanan.
 Di mana posisi anda terhadap do’a minta keluar dari kesulitan ini:
ﻻﺇﻟﻪﺇﻵﺍﷲﺍﻟﻌﻇﻳﻢﺍﻟﺤﻟﻳﻢ٭ﻻﺇﻟﻪﺇﻵﺍﷲﺮﺏﺍﻟﻌﺮﺶﺍﻟﻌﻇﻳﻢ٭ﻻﺇﻟﻪﺇﻵﺍﷲﺮﺏﺍﻟﺴﻤﻮﺍﺖﻮﺮﺏ
ﺍﻷﺮﺾﺮﺏﺍﻟﻌﺮﺶﺍﻟﻛﺮﻴﻡ
“Tidak ada Ilah selain ﺍﷲ Yang Maha Agung dan Maha Sabar. Tidak ada Ilah selain ﺍﷲ Rabb ‘arasy yang agung. Tidak ada Ilah selain ﺍﷲ Rabb langit dan bumi serta ‘arasy yang mulia.”
 Jangan marah. Tapi jika harus marah, diamlah dan berlindunglah kepada ﺍﷲ dari syetan. Ubahlah posisi anda. Jika anda marah ketika sedang berdiri maka duduklah, berwudhulah, dan perbanyaklah berdzikir.
 Jangan takut dengan kesulitan, sebab kesulitan akan menguatkan hati, akan membuat anda dapat merasakan nikmatnya sehat, akan membulatkan tekad, akan mengangkat kedudukan, dan akan memunculkan kesabaran anda.
 Memikirkan masa lalu adalah kebodohan dan kegilaan. Ibaratnya, orang yang menumbuk tepung, yang menggergaji serbuk kayu, dan mengeluarkan mayat dari kuburan.
 Lihatlah musibah itu dari sisi yang paling memberikan harapan, bayangkan pahala yang anda dapatkan dari musibah tersebut. Sadarilah bahwa musibah yang menimpa diri anda itu lebih ringan jika dibandingkan dengan yang menimpa orang lain. Mudah dari musibah yang lain. Dan, belajarkan dari orang-orang yang telah mendapat cobaan dan ujian.
 Apa yang akan menimpa diri anda tidak akan luput dari anda dan yang tidak akan menimpa diri anda tidak akan pernah menimpa diri anda. Pena telah kering untuk (menuliskan lagi) apa yang akan anda alami nanti. Tak ada alasan bagi anda untuk menghindar dari (ketentuan) qadha.
 Ubahlah kegiatan-kegiatan itu menjadi keuntungan-keuntungan. Buatlah minuman yang manis dari buah lemon. Tambahkan ke dalam air musibah itu gula sepenuh telapak tangan. Dan, beradaptasilah dengan keadaan anda.
 Jangan pernah berputus asa dari rahmat ﺍﷲ, dan jangan lupa pertolongan ﺍﷲ sebab pertolongan ﺍﷲ akan turun sesuai dengan tingkat kesulitannya.
 Kebaikan yang terdapat dalam apa yang anda benci lebih banyak daripada yang terdapat dalam yang anda sukai, karena anda tidak mengetahui akibat yang akan terjadi. Betapa banyak kenikmatan yang tersembunyi dalam kesulitan dan betapa banyak kebaikan yang tersembunyi dibalik baju keburukan.
 Ikatlah khayalan anda itu agar tidak menyeret anda ke dalam lembah-lembah keresahan. Berusahalah untuk berfikir tentang nikmat, karunia, dan kemenangan-kemenangan yang ada pada diri anda.
 Hindarilah kebisingan dan hiruk pikuk di dalam rumah dan kantor anda. Sebab diantara tanda-tanda kebahagiaan adalah ketenangan, kedamaian, dan keteraturan.
 Shalat adalah penolong yang sangat baik untuk mengeluarkan diri anda dari belitan musibah. Shalat akan mengangkat jiwa naik ke cakrawala yang paling tinggi, dan akan membawa ruh ke ruang cahaya dan kemenangan.
 Pekerjaan yang serius-produktif akan membebaskan jiwa dari kecenderungan-kecenderungan buruk, dari khayalan-khayalan yang penuh dosa, dan dari keinginan-keinginan yang terlarang.
 Kebahagiaan adalah sebuah pohon yang airnya, makanannya, udaranya, dan cahayanya adalah keimanan kepada ﺍﷲ dan akhirat.
 Barangsiapa memiliki tata krama yang banyak dan baik, perasaan yang sehat, dan akhlak yang mulia, maka dia akan membuat dirinya dan orang lain berbahagia, dan akan mendapatkan hati yang tenang dan kondisi jiwa yang sejuk.
 Hiburlah hati anda sebab hati itu cepat bosan dan mudah merasa capek, terapkan cara-cara yang variatif, dan carilah dari sekian cara itu yang mengandung seni hikmah dan ragam makrifah.
 Ilmu itu akan membuat hati menjadi lapang, meluaskan cara pandang, membukakan cakrawala sehingga jiwa dapat keluar dari berbagai keresahan, kegundahan dan kesedihan.
 Adalah bagian dari kebahagiaan, kemampuan untu mengatasi rintangan dan kesulitan. Nikmatnya kemenangan tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan apapun, dan kegembiraan yang disebabkan oleh keberhasilan tidak bisa disamakan dengan kegembiraan manapun.
 Jika anda ingin merasakan kebahagiaan bersama orang lain maka perlakukanlah mereka dengan cara yang sama yang anda sukai ketika mereka memperlakukan anda, jangan meremehkan milik mereka, dan jangan pula merendahkan kemampuan mereka.
 Pengetahuan, pengalaman, dan wawasan jauh lebih baik daripada tumpukan harta, karena gembira dengan harta benda adalah sifat binatang sedangkan gembira dengan ilmu pengetahuan adalah sifat manusia.
 Jika salah satu dari pasangan suami-isteri itu marah, maka yang lain harus diam. Baik suami atau isteri harus menerima pasangannya apa adanya karena tak seorang pun di dunia ini yang sempurna.
 Teman yang shaleh dan optimis akan sangat membantu meringankan kesulitan-kesulitan yang anda hadapi, dan membukakan pintu harapan. Sedangkan yang pesimistis akan membuat dunia tampak hitam pekat.
 Orang yang sudah memiliki isteri/suami, rumah, badan yang sehat, dan kecukupan harta maka dia telah mendapatkan keindahan hidup. Karena itu, ia harus bersyukur kepada ﺍﷲ, dan merasa puas. Di atas semua itu, tidak ada lagi kenikmatan, kecuali keresahan belaka.
 Orang yang merasa aman dalam tidurnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka sebenarnya dia telah memiliki dunia. (Al-Hadits)
 Orang yang ridho kepada ﺍﷲ sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul maka itu adalah hak 4JJI untuk meridhai-Nya. (Al-Hadits).
 Prinsip-prinsip kesuksesan adalah bahwa ﺍﷲ ridha kepada anda, ﺍﷲ ridha karena orang-orang di sekitar anda, keran jiwa anda yang menerima dengan penuh keridhaan, dan anda mampu mempersembahkan amalan yang bermanfaat.
 Makanan adalah kebahagiaan untuk sehari, perjalanan adalah kebahagiaan untuk seminggu, pernikahan adalah kebahagiaan untuk sebulan, dan keimanan adalah kebahagiaan untuk seumur hidup.
 Anda tidak akan pernah bahagia dengan tidur, dengan makan, dengan minum, dan dengan menikah saja. Tapi anda akan bahagia dengan bekerja, yang juga telah memberikan kedudukan yang tinggi kepada orang-orang besar di muka bumi ini.
 Orang yang memiliki kesempatan untuk membaca adalah orang yang bahagia. Karena dia bisa memetik bunga dari taman alam semesta, bisa berkeliling mengitari keajaiban dunia, dan bisa melipat waktu dan tempat.
 Berbicara dengan sesama saudara dapat mengusir kesedihan, bercanda yang sehat adalah rileksasi, dan mendengarkan syair dapat menenangkan pikiran.
 Andalah yang mewarnai hidup anda dengan cara pandang anda terhadap hidup itu sendiri. Artinya, kehidupan anda adalah ciptaan pikiran anda sendiri. Karena itu, jangan mengenakan kacamata hitam.
 Pikirkan tentang orang-orang yang anda cintai, dan jangan meluangkan waktu sedetik pun untuk memikirkan tentang orang-orang yang anda benci, karena mereka tidak akan tahu-menahu tentang dirimu dan keresahan yang anda hadapi.
 Jika anda menikmati kerja-kerja yang produktif maka syaraf anda akan mengendur, jiwa anda akan tenang, dan lautan ketenangan akan menenggelamkan anda.
 Kebahagiaan itu tidak terdapat dalam garis keturunan, dalam harta benda, dan dalam emas berlian. Tapi kebahagiaan itu terdapat dalam agama, ilmu, sopan santun, dan tujuan yang kesampaian.
 Menurut ﺍﷲ, hamba-Nya yang paling bahagia adalah orang yang paling banyak melakukan kebaikan dengan tangannya sendiri, yang paling banyak memberikan kebaikan kepada saudara-saudaranya, dan paling banyak bersyukur atas semua itu.
 Jika anda tidak bisa menikmati kebahagiaan dengan waktu yang ada maka jangan pernah menunggu kebahagiaan yang akan menghampiri anda dari cakrawala dan turun dari langit.
 Berpikirlah tentang keberhasilan anda, tentang hasil pekerjaan anda, dan tentang kebaikan apa yang telah anda baktikan kepada orang lain. Kemudian bergembiralah dengan semua itu, dan bersyukurlah kepada ﺍﷲ. Yang seperti ini akan membuat hati anda terasa lapang.
 Dzat Yang telah mencukupkan keinginan anda kemarin, akan pula mencukupkan keinginan anda hari ini dan besok. Karena itu, bertawakallah kepada-Nya. Jika Dia bersama anda, siapa yang anda takutkan? Dan, jika Dia menjauhi anda, maka kepada siapa anda akan berharap?
 Antara diri anda dan orang-orang kaya itu hanya berselisih satu hari. Di hari kemarin, mereka sama sekali tidak merasakan kenikmatan hari kemarin; sedangkan hari besok, bukan milik saya dan bukan pula milik mereka. Mereka itu hanya punya satu waktu. Sungguh sangat singkat.
 Kegembiraan itu membuat jiwa menjadi bersemangat, membuat hati menjadi berbunga, menyeimbangkan masing-masing anggota tubuh, memberikan kekuatan, dan memberi nilai kepada kehidupan dan faedah kepada usia hidup manusia.
 Kekayaan, keamanan, kesehatan, dan agama adalah pilar-pilar kebahagiaan. Logikanya, orang yang tidak punya apa-apa, yang dilanda ketakutan, yang sakit, dan yang kafir, tidak akan mendapatkan kebahagiaan. Mereka semua berada dalam kesengsaraan.
 Orang yang memahami arti kebersahajaan, akan memahami pula arti kebahagiaan. Orang yang menempuh jalan pertengahan, akan mencapai kemenangan. Dan, orang yang mengikuti cara-cara yang mudah, akan mendapatkan keberuntungan.
 Dalam satu rentang waktu yang namanya zaman hanya ada satu kata: Sekarang! Dan, dalam kamus kebahagiaan hanya ada satu kata: Keridhaan!
 Jika anda ditimpa musibah maka bayangkan musibah itu sangat besar, niscaya anda akan mudah menghadapinya. Dan, anggap bahwa musibah itu akan segera berakhir. Kalau bukan karena kesengsaraan yang disebabkan oleh kesulitan, tentu tidak akan pernah mengharapkan kegembiraan karena bisa keluar dari kesulitan.
 Jika anda terhimpit oleh sebuah tekanan maka ingatlah berapa banyak tekanan yang telah berhasil anda lalui dan berapa banyak ﺍﷲ telah menyelamatkan diri anda. Pada saat itu anda akan tahu bahwa Dzat Yang telah Menyelamatkan diri anda di dunia, juga akan melakukan hal yang sama di akhirat kelak.
 Orang yang durhaka kepada hari yang dijalaninya adalah orang yang menghabiskannya untuk melakukan hal-hal yang menyalahi ‘yang seharusnya’: kewajiban, keluhuran, pujian, ilmu, kedekatan, dan kebaikan.
 Usahakan agar di sekitar anda atau di tangan andaselalu ada Buku Abadi, karena selalu ada waktu yang terbuang percuma. Dan, Buku Abadi adalah alternatif terbaik untuk menjaga waktu itu dan mengisinya dengan hal-hal yang membangun.
 Seorang hafizh yang membaca al-Qur’an pada tengah malam, tidak pernah mengeluh bosan, tidak pernah mengeluh kosong, dan tidak pernah mengeluh jemu. Sebab al-Qur’an telah mengisi seluruh hidupnya dengan kebahagiaan.
 Jangan terlalu cepat mengambil keputusan sampai anda selesai mempelajari semua aspeknya. Setelah itu, mintalah pilihan kepada ﺍﷲ, dan musyawarahkanlah dengan orang-orang yang anda percaya. Jika kemudian anda berhasil, memang itulah yang dikehendaki(Nya), dan jika tidak, maka jangan pernah menyesal.
 Orang yang berfikir akan senantiasa memperbanyak teman dan menyedikitkan musuh. Karena teman baru diperoleh dalam jangka waktu setahun, sedangkan musuh bisa didapat dalam waktu sehari. Maka beruntunglah orang yang diciptakan oleh ﺍﷲ untuk mencintai makhluk-Nya.
 Untuk kepentingan-kepentingan dunia anda, tetapkan satu batasan yang bisa anda jadikan rujukan. Kalau tidak, hati anda tidak akan pernah punya satu konsep, hati anda akan dipenuhi oleh keinginan-keinginan, hidup anda akan merana, dan keadaan anda akan semakin memburuk.
 Orang yang sudah bisa merasakan nikmat-nikmat ﺍﷲ pada dirinya berkewajiban untuk mengikatnya dengan syukur, menjaganya dengan ketaatan, dan memeliharanya dengan tawadhu agar nikmat-nikmat itu bisa lestari.
 Orang yang jiwanya dibersihkan oleh takwa, pikirannya disucikan oleh iman, dan akhlaknya disepuh oleh kebaikan, akan menerima kecintaan dari ﺍﷲ dan sesama.
 Orang yang malas dan suka berleha-leha adalah orang yang membuat orang di sekitarnya kerepotan dan yang menderita kesedihan, dalam arti yang sebenarnya. Sedangkan orang yang bekerja serius adalah orang yang tahu bagaimana harus hidup dan bagaimana mendapatkan kebahagiaan.
 Kenikmatan dunia itu sebenarnya berbanding berlipat-lipat terhadap musibah-musibahnya. Tapi masalahnya, bagaimana kita mencapai kenikmatan itu secara cerdas.
 Kehidupan yang sempurna itu adalah ketika anda di masa muda mencurahkan seluruh waktu anda untuk ambisi-ambisi anda, ketika di masa dewasa mencurahkan seluruh waktu anda untuk berjuang, dan ketika anda di masa tua mencurahkan seluruh waktu anda untuk merenung.
 Cela diri anda sendiri atas kelalaian yang anda lakukan, tapi jangan sekali-kali mencela orang lain. Anda memiliki banyak cela yang untuk memperbaiki seluruhnya sudah menghabiskan seluruh waktu yang ada. Oleh karena itu, tinggalkan selain diri anda.
 Yang lebih indah dari istana dan rumah mewah adalah buku, yang bisa menjernihkan pemahaman, yang membuat hati menjadi gembira, yang membuat jiwa menjadi teduh, yang membuat hati menjadi lapang, dan yang membuat pikiran berkembang.
 Mohonlah ampunan dan kesehatan kepada ﺍﷲ. Jika ﺍﷲ mengaruniakan itu semua maka anda telah mendapatkan semua kebaikan, terhindar dari semua keburukan, dan mendapatkan kemenangan dengan segala kebahagiaan.
 Sepotong roti, tujuh kurma, segelas air, dan sehelai tikar di kamar bersama dengan mushaf, maka katakan kepada dunia, “(Semoga) kedamaian (senantiasa) atasmu.”
 Kebahagiaan itu ada dalam pengorbanan dan pengingkaran terhadap (keinginan) diri sendiri, dalam usaha mengeluarkan semua upaya dan mencegah semua bahaya. Jauh dari sifat ananiyah (ego) dan balas dendam.
 Tertawa yang moderat akan membuat jiwa lapang, memperkuat hati, menghilangkan kebosanan, membuat aktif bekerja dan menjernihkan pikiran.
 Ibadah adalah kebahagiaan, dan kelurusan sikap adalah kesuksesan. Orang yang selalu berdzikir dan yang ketagihan istighfar, dan selalu membutuhkan ﺍﷲ adalah termasuk satu dari orang-orang yang berpredikat ‘orang-orang yang banyak berbakti’.
 Sahabat yang paling baik adalah orang yang sangat anda percaya dan membuat diri anda tenang bersamanya. Dia menjadi tempat berbagi kelelahan, berbagi kesedihan, dan tidak pernah menjual rahasia diri anda.
 Jangan terlalu membayangkan kebahagiaan yang jauh lebih besar dari yang anda rasakan, karena anda akan merugi dengan yang sudah ada. Dan, jangan menunggu musibah-musibah yang masih akan datang, karena anda akan dirundung keresahan dan kesedihan lebih awal.
 Jangan mengira bahwa anda diberi segalanya, tapi yang diberikan kepadamu adalah kebaikan yang banyak. Harapan bahwa anda bisa menerima semua karunia adalah harapan yang terlalu jauh.
 Wanita cantik dan bertakwa, rumah yang luas, rezki yang cukup, dan tetangga yang shaleh adalah nikmat-nikmat yang hanya diketahui oleh sedikit orang.
 Seni yang berupa usaha untuk melupakan sesuatu yang tidak disenangi adalah kenikmatan, usaha untuk mengingat-ingat nikmat adalah kebaikan, dan usaha untuk melupakan cela orang lain adalah keutamaan.
 Mengampuni itu lebih menyenangkan daripada membalas, bekerja lebih nikmat daripada menganggur, berpuas diri lebih agung daripada harta, dan kesehatan lebih baik daripada kekayaan.
 Menyendiri itu lebih baik daripada teman yang jahat, teman yang baik lebih baik daripada menyendiri, ber’uzlah itu adalah ibadah dan bertafakkur itu adalah ketaatan.
 Ber’uzlah adalah kerajaan pikiran, terlalu banyak bergaul adalah kebodohan, percaya kepada siapa saja adalah ketololan, dan meminta tolong kepada mereka adalah kesialan.
 Akhlak yang buruk itu adzab, kedengkian itu racun, ghibah itu kerendahan, dan memata-matai kesalahan orang itu kehinaan.
 Mensyukuri nikmat akan mencegah adzab, meninggalkan dosa akan menghidupkan hati, dan memenangkan pertarungan melawan nafsu adalah kenikmatan yang sangat besar.
 Sepotong roti kering dengan jaminan keamanan akan lebih terasa lezat daripada madu dengan cengkeraman perasaan takut. Kemah kecil dengan segala keburukan yang ditutupi ﺍﷲ lebih menyenangkan daripada istana yang penuh dengan fitnah.
 Kegembiraan karena ilmu itu akan abadi, kemuliaan karena ilmu akan lestari, dan ketenaran karena ilmu akan kekal. Sedangkan kegembiraan karena harta akan mudah sirna, kemuliaan yang disebabkan harta akan mengarah kepada kehancuran, dan ketenaran karena harta akan memudar.
 Bergembira dengan keduniaan adalah kegembiraan tingkatan anak-anak, sedangkan bergembira dengan keimanan adalah kegembiraan tingkatan orang-orang pilihan. Mengabdi kepada harta adalah kehinaan, dan beramal untuk ﺍﷲ satu-satunya adalah kemuliaan.
 Kepedihan yang diakibatkan oleh semangat yang tinggi adalah kesegaran, keletihan yang diakibatkan oleh kerja adalah ketenangan, keringat dari hasil kerja keras adalah minyak kesturi, dan pujian yang baik adalah parfum yang terbaik.
 Kebahagiaan adalah ketika mushaf menjadi teman akrab anda, amalan anda menjadi hobi anda, rumah anda menjadi tempat anda untuk menyendiri, dan harta simpanan anda adalah kepuasan diri anda.
 Gembira dengan makanan dan harta adalah kegembiraan anak-anak, gembira dengan pujian yang baik adalah kegembiraan orang-orang besar, dan melakukan kebaikan adalah kemuliaan yang tidak akan pernah memudar.
 Shalat di malam hari adalah keindahan di siang hari, senang melakukan kebaikan kepada sesama adalah bagian dari kesucian nurani, dan menunggu jalan jalan keluar dengan sabar adalah ibadah.
 Dalam ujian itu adalah empat keindahan seni: mengharapkan pahala, hidup interaktif dengan kesabaran, berdzikir dengan baik, dan membayangkan datangnya kebaikan.
 Jangan mau menjadi kepala sebab kepala sering merasa sakit. Jangan berambisi untuk menjadi terkenal sebab untuk terkenal dikenakan pajak, dan merasa cukup dengan tanpa nama adalah sebuah kebahagiaan.
 Tanda kebodohan itu adalah membuang-buang waktu, menunda-nunda taubat, menggantung kepada orang lain, durhaka kepada orang tua, dan menyebarkan rahasia orang lain.
 Kematian hati bisa diketahui dengan seringnya meninggalkan ketaatan, tenggelam dalam dosa, tidak peduli dengan omongan yang buruk, merasa aman dari tipu daya ﺍﷲ, dan selalu menghina orang-orang shaleh.
 Orang yang tidak merasakan kebahagiaan di rumahnya maka di tempat lainpun tidak akan pernah merasakan kebahagiaan. Orang yang tidak disenangi keluarganya maka tak seorangpun yang akan menyenanginya. Dan orang yang menyia-nyiakan hari ini, berarti telah menyia-nyiakan hari esok.
 Empat perkara yang mendatangkan kebahagiaan : Buku yang bermanfaat, anak yang baik, istri yang disayangi, teman bergaul yang shaleh. Dan, ﺍﷲ memiliki ganti untuk semua itu.
 Iman, kesehatan, kekayaan, kebebasan, rasa aman, semangat muda dan ilmu adalah sari dari semua yang diinginkan oleh orang-orang yang berpikir. Namun hanya sedikit yang mamu mendapatkannya sekaligus.
 Berbahagialah sekarang sebab anda tidak lagi terikat janji, bahwa anda akan abadi,dan anda tidak lagi mendapat jaminan keamanan dari guncangan zaman. Karenanya, jangan menjadikan kegundahan itu sebagai uang tunai sementara kegembiraan itu sebagai hutang.
 Sebaik-baik yang ada di dunia ini adalah keimanan yang benar adalah keimanan yang benar, akhlak yang lurus, akal yang sehat, fisik yang kuat, dan rezki yang mengalir. Sementara di luar itu semua adalah kesibukan semata.
 Dua kenikmatan yang tersembunyi: Kesehatan badan dan keamanan di dalam negeri. Sedangkan dua kenikmatan yang tampak: Pujian yang baik dan keluarga yang shaleh.
 Hati yang riang akan membunuh semua mikroba permusuhan, dan jiwa yang ridho akan mengusir semua serangga kebencian.
 Keamanan adalah tempat datar yang paling lapang, kesehatan adalah tutupan diri yang paling sempurna, ilmu adalah makanan yang paling lezat, cinta adalah obat yang paling mujarab, dan tutupan ﺍﷲ atas segala keburukan kita adalah pakaian yang paling baik.
 Orang yang bahagia itu tidak pernah menjadi orang fasik, orang sakit, orang yang terlilit hutang, orang terasing, orang yang dirundung kesedihan, orang terpenjara, dan orang yang dibenci.
 Kebahagiaan adalah kesulitan yang terpecahkan, permusuhan yang menyurut, keshalehan yang dipraktikkan, dan syahwat yang bisa dikalahkan.
 Jalan yang paling sedikit rintangannya adalah jalan menuju rumahmu, hari-hari yang paling banyak berkahnya adalah hari ketika anda melakukan keshalehan, sedangkan waktu yang paling sial adalah waktu ketika anda melakukan kejahatan terhadap seseorang.
 Jika anda mencela seseorang itu berarti anda telah mencela Rabb mereka Yang Maha Tinggi. ﺍﷲ telah menjadikan mereka dari ketiadaan namun mereka malahan ragu tentang keberadaan-Nya, telah memberinya makan saat kelaparan namun mereka malahan bersyukur kepada selain Dirinya, dan telah memberikan rasa aman dari ketakutan yang menimpa mereka namun mereka malahan memerangi-Nya.
 Jangan meletakan bola dunia di atas kepala dan jangan mengira bahwa orang lain selalu peduli terhadap masalah kita. Karena hanya karena itu saja mereka sudah melupakan kematian saya dan anda.
 Kegembiraan itu adalah kecukupan dan tanah untuk berdiam, keselamatan dan ketenangan, keamanan dari fitnah, terhindar dari ujian, syukur atas nikmat, dan ibadah sepanjang zaman.
 “Jadilah di dunia ini ibarat seorang asing atau seorang yang numpang lewat”, “Shalatlah seperti seorang yang akan meninggal dunia”, “Jangan berbicara kalau nantinya kamu hanya akan minta maaf atas apa yang pernah kamu ucapkan”, “Himpunkan semua rasa putus asa itu dari semua manusia”. (Al-Hadits).
 Jauhilah dunia niscaya ﺍﷲ akan mencintai anda, jauhilah apa yang ada pada orang lain niscaya mereka akan mencintai anda, berpuas dirilah dengan yang sedikit, lakukanlah semua yang diturunkan dari langit, bersiaplah untuk melakukan perjalanan, dan takutlah kepada Yang Maha Agung.
 Tidak ada kehidupan bagi pemarah, tidak ada ketenangan bagi pencari musuh, tidak ada rasa aman bagi pendosa, tidak ada yang mencintai bagi pelaku kemaksiatan, tidak ada pujian atas pembohong, dan tidak ada kepercayaan terhadap perusak janji.
 “Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin itu, semua urusannya adalah baik. Dan, itu tidak terjadi pada seorang pun kecuali orang mukmin. Jika ditimpa kesenangan maka dia bersyukur, dan ini tentu baik baginya, dan jika ditimpa musibah maka dia bersabar, yang juga baik baginya.” (Al-Hadits).
 Senyum itu adalah kunci kebahagiaan, cinta adalah pintunya, kegembiraan adalah taman bunganya, iman adalah cahayanya, dan keamanan adalah temboknya.
 Keriangan adalah wajah yang berseri, taman yang hijau, air yang dingin, buku yang bermanfaat disertai hati yang bisa menghargai nikmat, meninggalkan dosa, dan mencintai kebaikan.
 Orang sehat itu jika tidur di atas batu cadas maka rasanya seperti tidur di atas kain sutera, jika makan roti gandum saja maka rasanya seperti makan bubur, dan jika tinggal di gubuk kecil maka rasanya seperti di istana Kisra (Persia).
 Orang kikir itu kalaupun hidup maka dalam kefakiran, atau kalau mati maka ia mati sebagai orang kaya namun dengan status sebagai pembantu setia keluarganya, penjaga harta mereka, orang yang dibenci sesama, orang yang jauh dari ﺍﷲ , dan namanya menjadi omongan jelek di dunia.
 Anak lebih utama dari kekayaan, kesehatan lebih baik daripada harta benda, keamanan lebih baik daripada tempat tinggal, dan pengalaman lebih baik daripada harta.
 Jadikan kegembiraan itu sebagai ungkapan syukur, kesedihan sebagai wujud kesabaran, diam sebagai bentuk tafakur, penyikapan terhadap permasalah sebagai belajar, ucapan sebagai dzikir, hidup sebagai ketaatan, dan kematian sebagai cita-cita.
 Jadilah seperti burung yang rezkinya datang setiap pagi dan sore, tidak pernah dipusingkan oleh hari esok, tidak pernah percaya kepada siapapun, tidak pernah menyakiti siapapun, bayangannya ringan, dan gerakannya indah.
 Orang yang banyak bergaul dengan orang-orang luar maka mereka akan merendahkannya, orang yang kikir kepada mereka maka mereka akan membencinya, orang yang sabar terhadap mereka maka mereka akan menghormatinya, orang yang dermawan kepada mereka maka mereka akan mencintainya, dan orang yang selalu membutuhkan mereka maka mereka akan membencinya.
 Bidang edar planet itu berputar, malam-malam itu mengandung, dan hari-hari senantiasa berganti. Maka, sangat tidak mungkin satu keadaan akan tetap tak berubah, sedangkan Yang Maha Penyayang setiap harinya selalu berkepentingan dengan makhluk-Nya …………. Mengapa harus bersedih?
 Mengapa harus berdiri di depan pintu-pintu para penguasa sambil mengharap dari mereka, padahal ubun-ubun mereka berada di genggaman Rabb alam semesta? Itu artinya, anda meminta harta dari orang yang fakir, meminta dari orang yang kikir, dan mengeluh kepada orang yang terluka?
 Kirimkan surat-surat anda menjelang subuh: surat yang ditulis dengan tinta air mata, dengan kertas pipi, dengan perangko pengabulan, dan dengan alamat yang dituju adalah ‘arasy. Setelah itu tunggulah balasannya.
 Pada waktu bersujud, bisikkan semua urusan anda kepada-Nya, karena Dia Maha Tahu yang tersamar dan tersembunyi. Dan, juga jangan anda perdengarkan kepada orang-orang di sekitar, sebab cinta itu memiliki rahasia-rahasia, sementara orang tidak sama: ada yang tidak suka dan ada pula yang membantu.
 Maha Suci ﺍﷲ yang menjadikan kepasrahan kepada-Nya sebagai kekuatan, yang menjadikan rasa butuh kepada-Nya sebagai kekayaan, yang menjadikan permohonan kepada-Nya sebagai kemuliaan, yang menjadikan rasa rendah diri kepada-Nya sebagai ketinggian, dan tawakal kepada-Nya sebagai kecukupan.
 Jika di hati anda ada keresahan, maka keadaan akan gelap karena sedih, dan jika anda terguncang karena kehilangan keluarga dan harta, maka jangan putus asa; mungkin saja ﺍﷲ menjadikan peristiwa lain setelah itu.
 Jangan lupakan “Hasbunallah wa ni’mal wakil”, sebab ucapan ini bisa memadamkan api yang membakar, menyelamatkan orang yang tenggelam, menegaskan jalan yang akan dilalui, dan mengandung janji yang kuat.
 Sungguh beruntungnya engkau, wahai burung. Engkau menukik ke kedalaman air sungai, hinggap di atas pepohonan, mematuk buah-buahan apa saja, tanpa pernah membayangkan bahaya akan datang, dan tidak terkena ancaman neraka Saqar. Engkau lebih bahagia dari manusia.
 Kebahagiaan itu hanya kilasan waktu yang tak nyata, kesedihan adalah tebusannya, kemarahan adalah kekejian yang diakibatkannya, menganggur adalah kerugian, dan ibadah adalah perdagangan.
 Hari kemarin telah mati, hari ini dalam pengendalian, dan esok hari belum lahir. Anda adalah produk waktu. Jadikan waktu itu sebagai ketaatan, yang memberikan imbal balik berupa barang dagangan yang paling menguntungkan.
 Teman minum anda adalah pena, kolam renang anda adalah tinta, sahabat anda adalah buku, rumah anda adalah istana, dan harta kekayaan anda adalah kekuatan dalam diri anda. Karena itu, tak usah bersedih dengan sesuatu yang berlalu.
 Mungkin saja kesan pertama dari masalah-masalah yang anda hadapi membuat kurang senang, namun ternyata setelah semua itu anda lalui anda baru bisa tersenyum puas. Ibarat awan yang di awalnya adalah petir dan kilat namun berikutnya ada hujan yang lebat.
 Istighfar itu akan membukakan gembok-gembok pengunci, mendamaikan hati, dan menghilangkan kerusakan. Istighfar adalah uang panjar rezki dan pembuka keberuntungan.
 Enam hal yang memberikan kesembuhan: Agama, ilmu, kekayaan, harga diri, ampunan, dan kesehatan.
 Siapa yang akan mengabulkan permintaan orang terhimpit masalah jika meminta pertolongan, yang menolong orang yang tenggelam jika menyeru, dan yang akan menghapuskan kesulitan dari kita? Dia adalah ﺍﷲ.
 Jauhi perselisihan yang tak menghasilkan, majelis yang sia-sia, dan sahabat yang bodoh. Sahabat adalah pembegal, tabiat adalah pencuri, dan mata adalah perampok.
 Menghias diri dengan menyimak secara seksama, tidak memotong percakapan, lembut dalam bertutur, dan halus budi bahasa adalah lencana-lencana yang tersemat di dada orang-orang yang merdeka.
 Anda memiliki dua mata, dua telinga, dua tangan, dua kaki satu lidah, iman, Al-Qur’an, dan rasa aman. Tapi, di mana rasa syukur, wahai umat manusia? “Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan.” (QS. Ar-Rahman: 13)
 Anda berjalan di atas kedua kaki, padahal telah banyak kaki yang bengkak. Anda bertopang pada kedua betis padahal telah banyak orang yang putus kedua betisnya. Anda bisa tidur nyenyak sementara orang lain terampas tidurnya karena sakit. Dan, anda kenyang sementara orang lain kelaparan.
 Sekarang, anda tidak tuli, tidak buta, dan tidak bisu. Anda tidak lepra, tidak gila, dan tidak terserang penyakit supak. Anda tidak menderita TBC dan Kanker. Tapi,apakah anda telah bersyukur kepada yang Maha penyayang?
 Musibah yang menimpa kita adalah bahwa kita tidak mampu menghadapi masalah hari ini, malahan menyibukkan diri dengan masa lalu, mengabaikan yang ada hari ini, dan antusias sekali mereka-reka hari besok. Dimana akal kita dan dimana kebijaksanaan kita?
 Kritikan lain terhadap diri anda memiliki makna bahwa Anda telah melakukan sesuatu yang pantas untuk dikatakan dan bahwa Anda telah mampu melampaui mereka dalam ilmu pengetahuan, pemahaman, harta, kedudukan, dan kehormatan.
 Memakai kepribadian orang lain, larut dalam identitas orang lain, dan meniru orang lain adalah bentuk tindakan bunuh diri dan pembusukan terhadap nilai-nilai kepribadian.
 “Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing).” (QS.Al-Baqarah: 60); “Dan, bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri).” (QS. Al-Baqarah: 148); “Kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, yang disirami air yang sama.” (QS. Ar-Ra’d:4)

(dirangkum dari buku LA TAHZAN)

afwan pengarangnya aq lupa….. maaf ya pak…. !

November 3, 2008 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Masa Depan di Tangan Islam

A. PENDAHULUAN
Dari dulu hingga sekarang, orang-orang kafir memang selalu memusuhi Islam dan tidak ridho terhadap semua orang islam yang konsekuen. (Al Baqoroh: 120) Mereka tidak terima jika Nabi terakhir yang diutus bukan dari kalangan mereka. Mereka selalu ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut dan tangan mereka. Mereka juga berupaya dengan segala cara untuk menumpas islam sampai-sampai mereka tega membunuh wanita dan bayi-bayi yang tak berdosa.”
Buktinya umat Nabi Nuh Dahulu, telah mendustakan ajaran yang dibawa untuk mereka. Tak hanya itu, mereka juga mengolok-olok, melempari kotoran, bahkan memerangi dengan segala cara. Akan tetapi akhirnya mereka takluk oleh banjir yang menenggelamkan mereka semua yang ingkar. si Anak Durhaka-pun ikut tenggelam walau ia menyelamatkan diri dengan mendaki gunung. Tak ada gunanya sedikitpun.
Contoh yang lain adalah fir’aun yang juga mendustakan ajaran Musa AS. Ia memiliki pasukan yang banyak dan kuat. Ia menghancurkan orang-orang yang beriman kepada nabi Musa AS. Ia juga marah luar biasa jika ada kekuatan sedikit saja yang membela dakwah Nabi Musa AS. Bahkan ia tak segan-segan membunuh setiap bayi laki-laki, hanya karena takut jika kelak tumbuh besar akan menjadi kekuatan yang ingin merebut kekuasaannya. Padahal itu belum tentu terjadi. Akhirnyapun sama saja, ia kalah dan hancur setelah dengan segala upaya ingin membunuh Nabi Musa AS, dan menghapus ajaran-nya. Fir’aun dan bala tentaranya tenggelam di lautan akibat kesombongan mereka sendiri.
Begitu pula setelah Nabi Muhammad SAW diutus. Beliau selalu mendapatkan kecaman dari pembesar-pembesar Quraisy. Beliau beserta pengikutnya diancam dengan pembunuhan. Peperangan demi peperangan pun berkobar. Toh, akhirnya sama saja. Orang-orang kafir tetap kalah dan ajaran islam masih ada sampai sekarang bahkan kita bisa merasakannya.
Masih banyak contoh lain, bagaimana kekalahan mereka pada perang Salib, baik pertama maupun kedua. Mereka gigit jari dan pulang kampung. Sia-sia saja mereka melawan islam karena islam tak mungkin dikalahkan. Bisa jadi ada sebagian umat islam yang ditangkap, disiksa dan dibunuh oleh musuh-musuh islam sebagai konsekuensi memperjuangkan islam di muka bumi. Tapi, sekali-kali mereka tak akan bisa memadamkan cahaya islam apapun yang mereka lakukan, tak ubahnya seperti menggali liang kubur sendiri.
Memang usaha-usaha untuk melawan dan menghancurkan islam pasti gagal, menyia-nyiakan umur dan harta, karena islam pasti menang yang melawan pasti kalah.
Allah SWT berfirman: Shof: 9
Artinya:
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang musyrik membenci.
Dan firman-Nya lagi
Surat Al Mujadilah: 21
Artinya:
Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
(di tulis oleh:Abu Bakar Ba’asyir:2008)

Sunnatullah telah menentukan bahwa jika terjadi pertarungan antara yang iman dan kufur, antara yang haq dan bathil, yang akan keluar sebagai pemenang adalah iman dan al-Haq, betapapun besarnya kekuatan kebathilan itu.

Sejarah juga mencatat bahwa kemenangan-kemenangan yang diraih oleh umat Islam dalam perjuangannya menegakkan “kalimatullah” bukanlah karena kekuatan material yang dimiliki umat Islam lebih besar dari yang dimiliki lawan.

Yang tercatat bahkan sebaliknya, umat Islam dari segi materi selalu dalam posisi yang lemah. Perhitungan matematis manusia mengatakan, Muslimin generasi pertama berpeluang untuk dilumat habis oleh musyrikin Quraisy.

Beberapa alasan bisa dikemukakan; persiapan yang kurang matang karena tidak ada rencana untuk memerangi pasukan bersenjata Quraisy, yang diburu adalah iring-iringan unta yang membawa barang dagangan, personil yang berjumlah kecil – satu berbanding tiga – dibandingkan dengan orang-orang kafir, serta perlengkapan yang apa adanya. Itu semua dianggap cukup menjadi alasan bagi kekalahan kaum Muslimin.

Namun perhitungan seperti itu hanya berlaku dalam pertempuran antara kebathilan melawan kesesatan. Dalam pertempuran seperti ini kekuatan benar-benar menjadi andalan utama. Sunnatullah kemenangan iman atas kekafiran itu terus berlangsung dan berulang dalam sejarah pertarungan antara keduanya.

Catatan terakhir yang kita baca (bahkan kita saksikan) dalam perjuangan kontemporer adalah perjuangan Afghanistan atas tentara komunis Rusia dan para bonekanya. Kemenangan ini sungguh spektakuler di luar perhitungan matematis manusia.

Inilah kebenaran janji-janji Allah Ta’ala Pengendali alam semesta: “Dan mereka (orang-orang kafir) merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.

Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya.” (Q.S. An-Naml 50-51) Firman-Nya pula: “Maka Kami beri kekuatan kepada orang-orang yang beriman (dalam mengalahkan) musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang yang menang.” (Q.S. As-Shaff:14)

Firman-Nya pula: “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (Q.S. Al Mu’min:51)

Keterlambatan kemenangan, boleh jadi membawa hikmah dan pelajaran. As-Syahid Sayyid Quthb dalam Dzilal-nya menyebutkan tidak kurang dari delapan hikmah/ pelajaran yang bisa ditarik dari ditangguhkannya kemenangan oleh Allah (lihat Fii Dzilalil Qur’an, yang berkaitan dengan ayat 38 surat Al-Hajj).

Beberapa di antaranya: Pertama, boleh jadi karena bangunan umat Islam belum sempurna, masih banyak potensi dan kekuatan yang belum tergali. Sehingga andaipun ia mendapat kemenangan, umat Islam tidak akan mampu mempertahankannya.

Kedua, boleh jadi “thagut” yang sedang diperangi umat Islam berkedok Islam, sehingga sebagian besar umat Islam tertipu olehnya dan menjadi pembelanya.

Ketiga, boleh jadi dalam memperjuangkan Al-Haq, umat Islam masih memiliki tujuan-tujuan lain selain tegaknya kalimatullah. Sedangkan Allah menginginkan jihad itu murni bertujuan mencari ridla-Nya.
(Ditulis oleh: Ketua BPK DPC PKS Pesanggrahan)

B. ISLAM SEBAGAI WAY OF LIFE

RUKUN ISLAM

Saat ini terjadi fenomena bahwa Islam tidak lebih hanya sekedar pengetahuan belaka. Islam dipelajari di Sekolah hanya sebatas untuk dihafalkan baik itu bacaan maupun gerakan. Hal ini sungguh memprihatinkan. Kondisi ini akan mengakibatkan fungsi Islam sebagai jalan hidup untuk mencapai kebahagiaan sejati (shiraatal ladziina an’amta ‘alaihim) tidak akan tercapai secara sempurna. Kalau boleh dianalogikan seperti memakan buah mangga, baru kulitnya saja. Tentu tidak terasa manis, hanya sekedar wangi mangga saja yang kita rasakan

Secara sederhana kita dapat menguraikan Islam sebagai jalan hidup dengan sumber rukun Islam yang telah kita ketahui dan hafal bersama.

Pada rukun Islam yang pertama, Islam mengajarkan seorang Muslim untuk mengakui keberadaan Tuhan Yang Ahad. Tuhan Yang Ahad itu harus diyakini sebagai Wujud yang ikut andil dalam semua proses dan hasil yang terjadi dalam hidup si Muslim. Masih pada rukun yang pertama, seorang Muslim dituntut untuk mengakui Rasul Muhammad yang menjadi teladan terbaik dalam hidupnya.

Pada rukun yang kedua, terdapat pengajaran mengenai perlunya berinteraksi secara patut dengan Tuhan Yang Ahad dalam hidup ini. Interaksi yang dilakukan secara konsisten, baik itu harian, mingguan, maupun tahunan. Terkadang, ada interaksi yang dilaksanakan berkaitan dengan peristiwa tertentu, seperti gerhana, atau bencana kekeringan. Ada pula interaksi sunah sebagai kesempatan untuk meningkatkan derajat seorang Muslim dihadapan Tuhan Yang Ahad (Al- Israa : 72)

Rukun yang ketiga, mengajarkan kepekaan sosial dalam hidup. Seorang Muslim menyadari bahwa dalam hidup ini, Tuhan memberikan anugerah dengan intensitas yang berbeda. Tujuan dari perbedaan itu adalah supaya manusia bisa saling berbagi. Sehingga pihak yang memiliki anugerah yang lebih menyadari akan adanya hak pihak yang lain yang harus ia tunaikan.

Rukun yang keempat mengajarkan seorang Muslim untuk dapat mengendalikan keinginannya. Ada kondisi dimana sebuah keinginan yang diperbolehkan harus disesuaikan dengan waktu dan tempat yang tepat. Apalagi untuk keinginan yang dilarang, maka si Muslim harus berjuang untuk mengendalikannya. Pengendalian ini melatih keikhlasan amal sehingga sang Muslim lebih merasakan keberadaan Tuhan Yang Ahad, yang telah diajarkan pada rukun pertama dan kedua.

Rukun yang terakhir memberikan tuntunan untuk senantiasa meneladani kehidupan para kekasih Allah. Dalam ibadah haji, Si Muslim akan menyaksikan beberapa frame sejarah yang berkaitan dengan kehidupan dan ibadah Kekasih Allah, Ibrahim as. Dalam waktu yang bersamaan, umat manusia ditunjukkan dengan fenomena berkumpulnya jutaan manusia. Ini adalah gambaran kecil dari yaumul jam’ie (Hari dikumpulkannya manusia). Tentu ini akan menguatkan keimanannya terhadap hari akhirat. (Deden Rudiansyah:2008)
KERANGKA BANGUNAN ISLAM
Ilustrasi berikut ini nampaknya lebih persuasif dalam mengkomunikasikan Islam secara utuh dan lebih sitematis. Karena aplikasi Islam harus dilakukan dalam bentuk proses “membangun” (to built and develop) bukan sekedar melaksanakan (to perform). Untuk menggambarkan proses pembangunan ini maka lebih transparan dengan menggunakan ilustrasi memahami struktur sebuah bangunan, baik bentuk maupun proses pebangunannya.

Fungsi dan Tahapan Pembangunan:
Secara garis besar bangunan Islam terdiri dari dua konstruksi utama. Yaitu konstruksi “Aqidah” sebagai fondasi, dan konstruksi “Syari’ah” sebagai kerangka dan ornamen bangunan itu sendiri. Keduanya berfungsi saling mendukung sehingga terbentuk dan berdiri sebuah bangunan. Sekalipun masing-masing memiliki fungsi yang berbeda tetapi perbedaan itu mampu ditata sehingga menjadi sinergi bangunan yang utuh, kokoh, indah dan berdayaguna. Inilah kesan pertama Islam sebagai way of life yang mampuh menyentuh berbagai aspek kehidupan dengan tingkat keperluannya yang beragam. Untuk selanjutnya ditata dan dimanage menjadi sebuah bangunan kehidupan yang indah, anggun dan nyaman mencerminkan kalimat rahmatan lil’alamin.
Pertama: Fondasi (Aqidah).
Berfungsi sebagai ground/base of the building dengan konstruksi sangat global tapi kokoh, bersih dan permanen. Keretakan di tingkat dasar dan fundamental ini tidak bisa ditolelir sedikit pun apalagi dimanipulasi. Karena akan berakibat fatal terhadap muatan dan beban bangunan di atasnya. Oleh karena itu persoalan aqidah sangatlah tegas dan jarang ditemukan toleransi. Seperti riya’ atau tidak ikhlash dalam beramal merupakan penyakit aqidah yang tidak pernah dibiarkan berkembang dalam hati nurani seseorang.
Dalam frame aktualnya, aqidah dapat berfungsi sebagai vision yang menjadi dasar “cara pandang” seseorang terhadap kehidupan. Visi ini sangat diperlukan untuk mengarahkan setiap orientasi dari setiap aksi dan prilaku yang diperbuatnya sepanjang hidup. Dan dengan visi ini aktifitas manusia tidak akan terkesan sebagai rutinitas yang membosankan tetapi lebih indah dari mimpi indah yang memperindah nuansa rutinitas tidaur seseorang yang kadang melelahkan. Dengan demikian seorang yang beriman dengan visinya yang aktual seperti ini senantiasa memiliki muatan misi yang mulia dalam kehidupannya.
Aktualitas dan vitalitas dalam cara pandang Islam tidak didasarkan pada penomena waktu dan ruang semata yang mempengaruhinya sehingga lebih dianggap realistik dan pragmatik. Tetapi lebih didasarkan pada esensi tuntutan kebenaran yang dimilikinya. Oleh karena itu setiap visi dan aksi dalam Islam memiliki nuansa aktualitas yang mencerminkan ke-realistik-an yang sesungguhnya karena dibangun di atas konsistensi dan kesesuaian antara teori visi dan aplikasi aksinya.
Tahapan fondasi ini dalam proses pembangunannya tentu saja harus selalu diprioritaskan (didahulukan dan diutamakan).
Ke dua: Struktur dan Atap Bangunan (Syari’ah).
Berfungsi sebagai eksistensi dan pelindung utama yang menampilkan adanya sosok dan performen suatu bangunan. Kekuatan, kelengkapan dan keindahan struktur bangunan sangat ditentukan oleh keahlian dalam penataan ruangan berikut interiornya termasuk kemampuan mengekspresikan seni bangunan berikut landscape-nya sesuai dengan ornamen yang dikehendaki. Semua akan memberikan nuansa ketenangan, keamanan dan kenyamanan bagi para penghuninya baik dalam fungsi individual maupun fungsi sosialnya.
Proses dan tahapan pembangunan struktur ini dilakukakan pada tahap kedua sesudah siap dan kokohnya fondasi. Dimulai dari hal-hal yang sangat primer dalam ‘ibadah dengan lima struktur utamanya sebagaimana terbangun dalam kerangka rukun Islam berikut kedudukan dan fungsinya masing-masing yang sangat esensial.
Statemen syahadat, sebagai pintu gerbang Islam yang berfungsi untuk membuat kontrak dan komitmen (keterikatan, keterkaitan dan keterlibatan) seseorang dalam memiliki, menghuni atau/dan meni’mati bangunan.
Shalat berfungsi sebagai tiang-tiang struktur yang menopang kekuatan dan bentuk struktur bangunan. Zakat berfungsi sebagai kemampuan dan kekuatan anggaran (budget pembangunan) yang merupakan bagian dari struktur utama Islam yang sangat penting. Tanpa anggaran maka gambar bangunan akan kehilangan fungsi struktural maupun sosio-kulturalnya, termasuk kelangsungan bangunan dan penghuninya.
Shaum menempati bagian dari struktur bangunan yang lebih tersembungi. Ia berfungsi bagaikan batu bata yang berfungsi membentuk kerangka kepribadian bangunan sehingga memiliki sosoknya yang lebih berbentuk dan berarti. Sifat dan karakter batu batu mewariskan atribut kesabaran, ketulusan dan siap berkorban demi penataan dan kesempurnaan suatu bangunan.
Sementara itu haji menempati bagian struktur bangunan yang berfungsi sebagai perekat bangunan, seperti semen, pasir, split dan air, yang menyatukan seluruh bagian bangunan. Dalam haji semua struktur rukun Islam diikat menjadi kesatuan banguanan Islam termasuk fungsinya yang lebih luas dalam rangka membentuk suatu bangsa (ummat) dengan sekala eksistensinya secara universal, integral dan internasional.
Adapun konsep hidup lain, seperti politik, ekonomi, sosial, keluarga dan budaya, menempati posisi sekunder dalam memfungsikan bangunan tersebut terutama dari sisi penataan interior bangunan sehingga lebih sempurna dan menarik sehingga membuat setiap penghuninya merasa aman, tenang dan nyaman. Semua itu ditata dalam konsep mu’amalah, terutama kontrak-kontrak jual beli dan pergaulan sosial, dan munakahah sebagai awal dari pembentukan keluarga yang berfungsi sebagai miniatur negara dan masyarakat dalam Islam.
Akhlaq dan sarana hidup lain berfungsi sebagai ornamen-ornamen bangunan yang tidak kalah pentingya dalam membangun estetika dan citra suatu bangunan. Oleh karena itu etika dan moral sangat diperhatikan dalam bangunan Islam dalam upaya membangun keperibadin manusia. Apalagi akhlaq dan etika menempati bagian terluar dari keperibadian itu sendiri yang selalu memberikan kesan pertama perilaku dan penampilan seseorang.
Namun seluruh atribut yang disandang oleh struktur ini akan rusak seketika dalam waktu singkat manakala tidak dilengkapi dengan penutup atap yang berfungsi sebagai pelindung dari hujan dan panas yang akan mengikis atribut-atribut tersebut. Oleh karena itu keberadaan hukum termasuk punishment-nya yang lebih bersifat struktural, baik perdata maupun pidana, sangat diperlukan untuk melindungi seluruh bagian bangunan dari segala bentuk kerusakan dan kejahatan. Oleh karena itu lebih membutuhkan adanya dukungan struktur yang independen dan memiliki kedaulatan sendiri.
Keberadaan dan tegaknya amar ma’ruf dan nahyi mungkar, yang lebih bersifat membangun keperdulian sosial, juga harus dibangun dalam kerangka pendekatan sosio-kultural. Sektor ini lebih berfungsi sebagai kontrol sosial yang lebih menitikberatkan pada kesadaran setiap individu masyarakat dalam menjaga keindahan dan keamanan bangunan kehidupan dari ancaman individu-individu yang berpotensi merusak.
Sedangkan jihad, yang dalam arti luas berarti berjuang dan arti yang lebih spesifik berarti berperang di jalan Allah, adalah bagian bangunan yang berfungsi defensif dan sekaligus ofensif dalam memelihara, menjaga dan meluaskan bangunan Islam dalam rangka menyebarkan dan mengembangkan misi Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Di sinilah keberadaan dan fungsi militer yang sesungguhnya dalam struktur bangunan Islam.
Inilah sekilas tentang struktur bangunan Islam dengan fungsinya masing-masing dapat kita cermati bersama. Semoga blueprint ini dapat memberikan gambaran posisi Islam sebagai way of life dengan ma’nanya yang intergral dan universal.
Sheffield, Jum’at 3 Juli 1998 M.
Amang Syafrudin ‘ZM.

C. KARAKTERISTIK DIN AL ISLAM
Islam memiliki karakter, ciri khas, dan kepribadian yang berbeda dengan agama lainnya. Baik itu Yahudi, Kristen, atau agama paganis seperti Hindu, Budha, atau isme (paham) buatan manusia seperti komunisme, sosialisme, kapitalisme dan lain-lain. Karakter ini, bukan sekadar menunjukkan perbedaan, tetapi juga keunggulan, ketinggian, keistimewaan, dan kemurniannya sebagai ajaran agama.
Tidak banyak umat Islam yang mengetahui karakter agamanya. Itulah kenyataan yang telah lama dan tidak mengenakan. Baik terjadi karena kemalasan mempelajari agamanya, atau karena muâ’amarah li at Taghrib (konspirasi pembaratan), juga karena pembodohan sistematis.
Boleh dikatakan sukses. Umumnya umat Islam memandang Islam itu hanya Isya, Subuh, Lohor (zhuhur), Asar, dan Maghrib, sesuai dengan singkatan namanya. Inna lillahi wa Inna ilaihi raji’un. Adapun yang lain memandang Islam itu hanya Jihad, shalat tidak shalat pokoknya jihad! Yang lain menganggap Islam itu Khilafah dan Khilafah, hidup matinya untuk khilafah, walau mereka tidak mengerti apa itu khilafah! Ada lagi menganggap Islam itu sekadar shalawat nabi, jika sudah selawat seakan sudah pada puncak khidmah (pengabdian) terhadap Islam. Ada juga yang memandang Islam itu hanya aqidah dan ibadah. Benarkah Islam seperti itu yang diajarkan oleh Allah Jalla wa Jalla melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam? Benarkah Islam terbentuk dalam wujud serpihan-serpihan seperti itu? Lalu, apa itu Islam?
Berkata Al Ustadz Asy Syahid Hasan al Banna rahimahullah:
Islam adalah nizham (tatanan) sempurna yang mencakup seluruh sisi kehidupan. Dia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, rahmat dan keadilan, wawasan dan undang-undang, ilmu dan ketetapan, materi dan kekayaan alam, atau penghasilan dan kekayaan, jihad dan da’wah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana dia adalah aqidah yang benar serta ibadah yang sahih, tidak lebih tidak kurang. (Al Imam Asy Syahid Hasan al Banna, Majmu’ah ar Rasail, hal. 305. Maktabah at Taufiqiyah, Kairo. tanpa tahun)
1. Rabbaniyah (ketuhanan)
Inilah karakteristik yang pertama. Islam adalah ajaran yang bersumber (mashdaran) dari Allah Tabaraka wa Ta’ala. Sedangkan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, hanyalah Rasul (pembawa risalah), ucapannya adalah wahyu dari Tuhannya, bukan hawa nafsunya. Karena itu keliru jika Islam disebut Mohammedenism (faham/isme buatan Muhammad), sebab Islam adalah ajaran buatan Allah Jalla wa Jalla , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hanyalah pembawa risalahNya.
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:
Dan tidaklah yang diucapkan (Muhammad) adalah hawa nafsunya, melainkan wahyu dari Tuhan. (QS. An Najm:3-4)
Imam Ibnu Katsir berkata: Apa yang diucapkannya bukanlah dari hawa nafsu dan keinginannya, itu hanyalah firmanNya yang dengannya ia diperintah untuk menyampaikannya kepada manusia secara sempurna, tanpa penambahan dan pengurangan. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anul ‘Azhim, 4/247)
Dalam tafsir lain disebutkan: Tidaklah ia mengucapkan dengan Al Qur’an ini menurut hawa nasfunya, dan tidaklah Al Qur’an ini melainkan wahyu dari Allah semata (Syaikh Khalid Abdurrahman al Ik, Shafwatul Bayan li Ma’anil Qur’anil Karim, hal. 526. Dar al Basyair, Damaskus)
Muhammad itu hanyalah seorang Rasul, telah berlalu sebelumnya rasul-rasul (QS. Ali Imran:144)
Maksudnya: Muhammad adalah sama dengan seluruh rasul-rasul yang diutus sebelumnya (Syaikh Khalid Abdurrahman al ‘Ik, Ibid, hal. 68) yaitu hanya membawa risalah Allah, bukan ia yang menciptakan risalah tersebut.
Rasul secara bahasa berarti utusan atau pesuruh. Diambil dari kata arsala-yursilu sama artinya dengan ba’atsa yab’atsu yang berarti mengutus. Jadi, secara bahasa sudah jelas bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hanyalah utusan Allah yang bertugas membawa dan menyampaikan (tabligh) risalahNya, yakni Islam.
Begitu pula hadits-hadits yang terucap dari lisannya, juga tidak akan keluar kecuali melalui bimbinganNya. Rasulullah Alaihi Shalatu was Salam telah menegaskan hal itu:
Ketahuilah, sesungguhnya aku telah diberikan al kitab (al Qur’an) dan sesuatu sepertinya bersamanya (yakni al hadits). (HR. Ahmad, Abu daud, dan Tirmidzi)
Dalam tafsir Ibnu Katsir (4/247), dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ‘Alaihi shalatu was salam bersabda: Apa saja yang aku kabarkan kepada kalian adalah dari Allah, yang tidak ada keraguan di dalamnya. (HR. Abu Bakar al Bazzar, katanya: kami tidak mengetahui riwayat lain kecuali dengan sanad ini)
Dalam hadits lain, Tidaklah aku berkata kecuali kebenaran. Sebagian sahabat bertanya, Engkau memanggil kami wahaiRasulullah?Rasulullah menjawab, Sesungguhnya tidaklah aku berkata kecuali kebenaran. (HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Islam sebagai ajaran Rabbaniyah (ketuhanan) , sangat jelas terlihat ketika kita mengkaji ayat-ayat tentang Iptek. Contoh surat Yunus: 61 tentang adanya benda yang lebih kecil dari atom. Atau tantangan Allah Jalla wa Jalla dalam surat Ar rahman terhadap Jin dan Manusia untuk menembus langit dan bumi jika mempunyai kekuatan (sulthan), atau Anemokori (penyerbukan bunga dengan angin) dalam Al Hijr: 22, atau tentang tiga pelindung rahim ibu hamil yaitu chorion, amnion, dan dinding uterus, Al Qur’an menyebutnya tiga kegelapan dalam Az Zumar:6, dan masih sangat banyak yang lainnya. Ini semua menunjukkan Al Qur’an telah berbicara tentang sesuatu di luar jangkauan manusia zamannya ia diturunkan, yang baru tertangkap hikmahnya pada masa belakangan. Hal tersebut, tentu mustahil hasil buatan manusia Ummi (buta baca dan tulis) seperti Rasulullah. Pastilah kaum berakal mengatakan ini dari Allah Rabbul Jalil.
Sedangkan agama lain, bukanlah ajaran Tuhan melainkan ajaran manusia-manusia yang menjadi pembawanya. Nasrani misalnya, banyak sekali diktum-diktum agama (baik Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama/Taurat) yang terasuki ucapan-ucapan kotor manusia. Ajaran mereka, seperti wajibnya khitan bagi laki-laki, haramnya babi, haramnya patung makhluk bernyawa ketentuan yang sangat mirip dengan Islam- telah dirubah oleh Paulus yang mengatakan bahwa khitan itu tidak bermanfaat, hanya babi hutan yang haram, dan perubahan-perubahan lainnya. Paulus termasuk pihak yang paling bertanggung jawab terhadap berbagai perubahan-perubahan sebagian besar ajaran Nasrani dari aslinya. Ialah yang menciptakan rekaan-rekaan dalam Injil yang diyakini dari Yesus oleh pemeluk Nasrani. Ia bernama Saulus seorang Yahudi (lagi-lagi Yahudi!) yang awalnya anti Yesus, ceritanya, ia mendapat hidayah menjadi pengikut setia Yesus lalu ia mengganti nama menjadi Paulus.
Benarlah Firman Allah Jalla wa Jalla :
”Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan-tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya, “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besar bagi mereka akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 79)
Imam Ibnu Katsir mengatakan, berkata Sufyan ats Tsauri, dari Abdurrahman bin ‘Alqamah, aku bertanya kepada Ibnu “Abbas radhiallahu ‘anhu tentang ayat (di atas), Ia menjawab: ayat itu diturunkan untuk kaum musyrikin dan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani).
Az Zuhry berkata, mengabarkan kepadaku “Ubaidillah bin Abdullah, bahwa Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: “Wahai kaum muslimin! Bagaimana kalian bertanya kepada Ahli Kitab tentang sesuatu, padahal Kitabullah (Al Qur’an) yang Dia turunkan kepada nabiNya telah mengabarkan, namun kalian membacanya dengan sepele, bahwa Allah Ta’ala telah mengatakan kepada kalian bahwa Ahli Kitab telah merubah Kitab Allah dan selainnya. Mereka menulis dengan tangan-tangan mereka al Kitab itu, lalu mereka mengatakannya itu dari Allah dengan tujuan mencari keuntungan yang sedikit dengannya.” (HR. Bukhari, Tafsir Ibnu Katsir, 1/118)
2. Al Insaniyah (Kemanusiaan)
Islam, walau ia ajaran dari langit, tetaplah berdimensi manusia karena memang diturunkan untuk seluruh manusia.
“Tidaklah Kami utus engkau (Muhammad) melainkan untuk seluruh manusia.” (QS. As Saba : 28)
Ajarannya ada sesuai fitrah manusia yang hanif (lurus) dan bahkan menyempurnakannya. Seluruh sisi kemanusiaan mendapatkan perhatian yang seimbang baik itu ruh, jasad, dan akal. Intinya segala kelengkapan untuk memanusiakan manusia, Islam memiliki formulanya.
Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Rabbku pada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus (hanif); dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Al An’am: 161)
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengganti untuk kita cara kependetaan (ruhbaniyah) dengan cara (agama) yang hanifiyah (lurus) dan sam-hah (sesuai tabiat manusia).” (HR. Imam Baihaqy, Kitab an Nikah, Bab al Hitsu ‘alan Nikah wa Ma Ja’a fi Dzalik. Ia berkata: Imam Thabrany meriwayatkan, di dalamnya ada Ibrahim bin Zakariya, dia itu dhaif. Majma’ az Zawaid, 4/252. Imam Khathib al Baghdady juga meriwayatkannya dari jalur Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu namun dhaif juga. Tetapi hadits ini memiliki tiga penguat dari jalur lain yang membuatnya menjadi hasan, demikian menurut Syaikh al Albany dalam Shahih Jami’us Shaghir)
Contoh, sikap Islam yang manusiawi terhadap syahwat yang dimiliki manusia, sebab tidak selamanya syahwat adalah musuh bagi manusia. Allah Jalla wa jalla mengingkari hidup kependetaan (ruhbaniyah) yang salah satunya adalah tidak mau menikah, yang kata mereka merupakan upaya pensucian diri dan jalan menuju Tuhan. Sebagaimana itu dilakukan oleh Pastur, Biarawti, Bikhsu Budha. Akhirnya, apa yang terjadi? Mereka menghamburkan syahwatnya dengan cara illegal. Bukan di atas lembaga perkawinan. Belakangan, radio ElShinta memberitakan bahwa ribuan pastur di Amerika Serikat demonstrasi kepada Vatikan khususnya kepada Paus Benedictus, bahwa mereka menginginkan pelarangan nikah bagi para pastur dihapuskan. Dahulu, awal era 90-an, seorang Suster yang mualaf bernama Anastasia Maria menceritakan dalam kaset ceramahnya, bahwa banyak pastur yang menghamili biarawati bahkan mereka memiliki rumah sakit khusus untuk menampung bayi-bayi hasil hubungan gelap sesama mereka.
Benarlah yang dikatakan Imam Ahmad bin Hambal radhiallahu’anhu, “Jika manusia sudah mampu menikah tetapi ia tidak mau melakukannya, maka hanya ada dua kemungkinan. Ia punya kelainan atau hobi bermaksiat.”
Islam datang bukan untuk memerangi hawa nafsu, melainkan mengendalikannya dan menempatkannya secara haq. Mengumbar syahwat secara tidak haq (baca: zina) adalah dosa besar, namun jika itu dilampiaskan kepada yang halal bagi manusia (pasangan sahnya) maka itu mulia dan berpahala.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Pada kemaluan seorang dari kalian ada sedekahnya.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah seseorang dari kami yang melampiaskan syahwatnya mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, “Apa pendapatmu jika ia melampiaskannya pada yang haram, bukankah ia berdosa? Maka demikian pulalah, jika ia melampiaskannya pada yang halal maka ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim. Shahih Muslim, Kitab Az Zakat, Bab Bayan Anna Ismash Shadaqah yaqa ala Kulli Nau’ minal Ma’ruf, 3/82)
Islam sangat menentang hidup mengebiri atau membujang tanpa alasan yang haq.[1] Sehingga terbentuk pribadi-pribadi yang hilang keseimbangannya.
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu,katanya: datang tiga orang ke salah satu rumah isteri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka bertanya tentang ibadahnya Nabi, ketika mereka memperoleh penjelasannya, mereka merasa kecil dibandingkan Nabi. Lalu mereka berkata: “Apalah kita ini jika dibandingkan dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, padahal beliau telah diampuni dosanya yang lalu dan yang akan datang?”
Seorang di antara mereka berkata, “Aku akan shalat malam selamanya.” Yang lain berkata, “Aku akan puasa sepanjang tahun tanpa berbuka.”Yang lain lagi berkata, “Aku akan menjauhi perempuan dan tidak nikah selamanya.” Maka datanglah Rasulullah Shallallahu ‘˜Alaihi wa Sallam, lalu berkata: “Kaliankah yang berkata begini dan begitu? Demi Allah, Akulah yang paling takut dan paling taqwa kepada Allah di banding kalian. Tetapi aku puasa juga berbuka, aku shalat tapi juga tidur, dan aku mengawini perempuan. Maka barangsiapa yang benci sunahku maka ia bukan golonganku.” (HR. Imam Bukhari, Kitab an Nikah, Bab Targhiib fi an Nikah,7/4. Imam Muslim, Kitab an Nikah, Bab Istihbab an Nikah “¦ ,9/175. Imam Ahmad, Al Musnad, 3/241, 259, 285)
Menurut kesehatan menikah juga hal yang sangat baik. Dalam koran Asy Sya’b yang terbit hari Sabtu 6 Juni 1959, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan pernyataan:
“Orang yang bersuami-isteri usianya lebih panjang dibanding orang yang tidak, baik karena menjanda, cerai, atau sengaja membujang.” Pernyataan PBB ini didasarkan data statistik yang berbunyi. “Benarlah adanya bahwa jumlah orang yang mati dari kalangan yang sudah bersuami isteri lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang tidak bersuami isteri dalam berbagai usia.”
Pernyataan tersebut selanjutnya: berdasarkan data-data, dapat disimpulkan bahwa nikah itu bermanfaat dan baik, bagi pria dan wanita, sehingga bahaya hamil dan melahirkan semakin berkurang, dan bukan lagi ancaman bagi kehidupan semua bangsa. (Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Jilid.2, hal.301-302. Darul Fath lil I’lam al ‘Araby, Kairo)
Islam memandang aneh manusia yang menyengaja tidak mau kawin. Berkata Umar bin al Khathab radhiallahu ‘anhu kepada Abu az Zawaid, “Sesungguhnya yang mencegahmu untuk nikah hanyalah kelemahanmu dan kedurhakaanmu.” (Ibid, hal. 303)
Ini baru satu saja contoh karakter kemanusiaan (al Insaniyah) ajaran Islam. Masih banyak lagi, dan jika Allah mengizinkan, akan di bahas pada waktu lain.
3. Al Basathah (sederhana-mudah)
Sederhana dan kemudahan dalam Islam bukanlah dipaksakan adanya, apalagi sengaja dibuat-buat mudah untuk mengikuti selera nafsu manusia. Melainkan Allah Ta’ala sendiri yang menjadikan agama ini mudah.
Allah Jalla wa Jalla berfirman:
”Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu.”(QS. Al Baqarah: 185)
“Allah memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An Nisa: 28)
Hadits dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu “Alaihi wa Sallam bersabda: “Berikanlah kemudahan jangan mempersulit, berikanlah kabar gembira, jangan buat mereka lari.”(HR. Imam Bukhari. Al Lu’ wal Marjan. Kitab al Jihad, Bab Fi al Amr at Taysir wa Tarku at Tanfir. no. 1131)
Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah suka jika rukhshah (dispensasi) yang diberikannya dilakukan, sebagaimana Ia juga suka jika ‘azimah (kewajiban awal sebelum dirukhshah)nya dikerjakan.” (HR. Ahmad dan Baihaqy. Imam Thabarany meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud. Shahih menurut Syaikh al Albany dalam Shahih alJami’Ash Shaghir, no. 1881. Al Haitsami mengatakan dua jalur tersebut rijalnya tsiqah)
Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah suka jika rukhshahnya dilaksanakan, sebagaimana ia benci jika maksiat dikerjakan.” (HR.Ahmad, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkannya, 5866, 5873. Ibnu Hibban dalam shahihnya, 2742. Al Haitsami mengatakan rijalnya shahih)
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, “Sesungguhnya Rasulullah jika dihadapkan dua perkara, dia akan memilih yang lebih ringan, selama tidak berdosa.” (HR. Bukhari dan Muslim, Al Lu’lu wal Marjan. Kitab al Fadhail, Bab Muba’adatuhu Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lil Atsam “no. 1502)
Kemudahan Islam sangat terlihat ketika kita membandingkan jalan menuju surga dan jalan menuju neraka. Ternyata jalan menuju surga begitu mudah, disesuaikan dengan kemampuan, dan gratis. Sementara menuju neraka harus dibarengi ongkos dan penuh resiko dan sanksi.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengizinkan sebagian orang untuk cukup melakukan ibadah-ibadah wajib yang pokok saja, bahkan mereka bersumpah tidak melebihi dan tidak mengurangi ibadah-ibadah tersebut. Meski demikian Nabi bersabda, ‘Aflaha in shadaqa (Ia beruntung jika jujur)” (HR. Bukhari, Al Lu’ lu’ wal Marjan, Kitab al Iman, Bab Bayan ash Shalawat alati ahad arkan al Islam,no. 6)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, sesungguhnya ada seorang Badui datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ia berkata: “Tunjukan kepadaku amal yang jika aku kerjakan mengantarkan ke surga.” Rasulullah menjawab: Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya dengan apapun, menegakkan shalat yang wajib, menunaikan wajibnya zakat, dan puasa Ramadhan.” Orang itu berkata, “Demi yang jiwaku ada di tanganNya, aku tidak akan menambahnya.” Ketika orang itu berlalu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang ingin melihat laki-laki yang termasuk ahli surga, maka lihatlah orang itu.”
(HR. Bukhari, Al Lu’lu’ wal Marjan, Kitab al Iman, Bab Bayan al Iman alladzi yadkhulu bihi al Jannah, no. 8)
Ibadah wajib yang pokok adalah shalat wajib lima waktu; mudah, tidak lama, menyehatkan, dan contoh gerakan maupun bacaan sudah ada. Zakat wajib jika sudah mencapau nishab (batas minimal) harta, sedangkan zakat fitrah hanya dua kilogram beras. Itu pun setahun sekali. Puasa Ramadhan hakikatnya hanya memindahkan jam makan saja. Sedangkan kewajiban Haji terikat oleh kemampuan; finansial, kesehatan dan ilmu. Jika belum terpenuhi maka belum wajib (karena itu wajib setiap muslim menjadi orang yang mampu agar rukun Islamnya sempurna).
Adapun jalan menuju neraka seperti judi, mabuk, korupsi, riba, zina (main pelacur), bukanlah jalan yang mudah. Butuh modal, sanksi berat baik pidana dan moral, tidak menyehatkan tubuh, merusak akal dan jiwa, dan tindakan yang memalukan. Namun anehnya inilah jalan yang lebih banyak peminatnya.
Sayangnya, kemudahan Islam yang Allah Jalla wa jalla berikan ini tertutup oleh sikap sebagian besar umat Islam yang menyulitkan dan melampaui batas. Entah karena tradisi lokal, pemahaman agama yang menyimpang, atau hadits-hadits palsu.
Contoh, ketika puasa Ramadhan. Hal yang membatalkan puasa hanyalah empat yang disepakati ulama, yaitu makan (minum) sengaja, mengeluarkan air mani secara sengaja (istimna’- onani-masturbasi), hubungan suami isteri, dan muntah disengaja. Namun, sebagian umat Islam Indonesia berlebihan dengan mengatakan menggosok gigi, mandi, maaf-ngupil, mengorek kuping, sekadar mencicipi makanan di mulut, adalah membuat batal puasa. Ini semua sama sekali tidak ada dasarnya yang sah dalam Islam. Sehingga betapa susahnya orang yang berpuasa. Adapun yang diperselisihkan apakah batal atau tidak-adalah berbekam, injeksi, infus, memasukkan obat ke hidung.
Adapun hadits yang menyebutkan benda masuk ke lubang tubuh maka puasa menjadi batal adalah dhaif. Ada riwayat, “Sesungguhnya berbuka (batal puasa) adalah karena sesuatu yang masuk bukan karena sesuatu yang keluar.” (HR. Abu Ya”la) mungkin hadits inilah yang membuat orang menilai batal membersihkan dalamnya hidung (ngupil), telinga, dan buang angin di air (?).
Syaikh al Albany mengatakan hadits tersebut dhaif, karena ada rawi (periwayat) yang bernama Salma dan dia majhul (tidak dikenal) dikalangan ahli hadits. Ada juga yang bernama Razin al Bakri, jika ia adalah Al Juhni maka ia kuat, jika bukan maka ia majhul. (Syaikh al Albany, Silsilah al Ahadits ad Dhaifah wal Maudhu’ah wa Atsaruha al Sayyi fil Ummah, hadits no. 961)
Contoh lain seperti masalah pernikahan yang seharusnya mudah dan murah menjadi mahal dan susah karena tradisi dan budaya yang jelas bukan dari Islam. Masih banyak contoh lainnya. Maka tugas para da’i merubah kesulitan dan kesempitan tradisi, menuju kemudahan Islam.

4. Al Wasathiyah wal ‘Adalah wat Tawazun (Pertengahan, Adil dan Seimbang)
Maksud dari karakter ini adalah sikap Islam yang pertengahan, adil, dan seimbang di antara dua jalan dan arah yang saling bertentangan. Antara dunia dan akhirat, individu (fardiyah) dan masyarakat (jama’iyah), idealita (mitsaliyah) dan realita (waqi’iyah), spiritual (ruhiyah) dan material (maddiyah), tekstual (manthuq) dan kontekstual (mafhum), konsisten (tsatbat) dan taghayyur (perubahan), sosialisme (isytirakiyah) dan kapitalisme (ra’sumaliyah), dan lainnya.
Pertengahan di antara dua hal itulah umat Islam layak di sebut umat terbaik, itu jika mereka masih berpegang teguh padanya.
Allah Ta’ala berfirman:
“Kamu sekali-kali tidak akan melihat pada ciptaan Allah Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang” (QS. Al Mulk: 3)
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan Kami jadikan kalian sebagai umatan wasathan”(QS. Al Baqarah: 143)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir ummatan wasathan berarti umat yang adil, pilihan dan terbaik. Dikatakan, “Quraisy adalah suku pertengahan di Arab secara garis keturunan (nasaban) dan negri tempat tinggal (Daaran), yaitu sebagai suku terbaik di sana. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pertengahan (wasathan) di antara kaumnya, yaitu yang paling mulia nasabnya, darinya ada istilah shalat wustha yaitu shalat paling utama, yakni Ashar.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anul Azhim, 1/190)
Penulis Syarh al Aqidah al Wasithiyah mengatakan, “Umat Islam adalah pertengahan antara agama-agama (milal), sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan kami jadikan kalian sebagai umat pertengahan (umatan wasathan).” (QS. Al Baqarah:143), sedangkan Ahlus Sunnah adalah pertengahan antara firaq (kelompok-kelompok) yang disandarkan kepada Islam. (Said bin Ali bin Wahf al Qahthany, Syarh al Aqidah al Wasithiyah Lisyaikhil Islam Ibni Taimiyah rahimahullah, hal.48. muraja’ah. Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin. Cet.2, Rabiul Awal 1411H. Penerbit: Ri-asah Idarat al Buhuts al “Ilmiyah wal Ifta’wad Da’wah wal Irsyad)
Karakter pertengahan, adil, dan seimbang ini bukanlah klaim, melainkan fakta. Contoh, pertengahan Islam dalam menyikapi wanita haid. Menurut Yahudi, wanita haid haruslah dikucilkan, hatta suaminya tidak boleh menyentuhnya. Adapun menurut Nasrani, wanita haid tidak berdosa bagi suaminya untuk menggaulinya. Dua gambaran ekstrim yang amat bertolak belakang.
Adapun Islam, pertengahan di antara kedua sikap ini. Islam mengajarkan para suami untuk tetap bersikap sewajarnya dengan wanita haid dan berinteraksi secara ma’ruf, bahkan boleh bercumbu (mubasyarah) “banyak hadits yang menceritakan kedekatan Rasulullah kepada isteri-isterinya walau mereka sedang haid sebagaimana yang diriwayatkan dari Aisyah, Ummu Salamah, dan Maimunah radhiallahu ‘˜anhunna, namun tidak dibenarkan untuk lebih dari itu, yaitu menggaulinya.
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Yahudi jika seorang wanita sedang haid, maka mereka tidak mau makan bersamanya (menjauhinya), maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Lakukanlah apa saja oleh kalian (terhadap isteri yang sedang haid, pen) kecuali nikah (jima’).” (HR. Muslim. Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Kitab ath Thaharah, Bab al Haidh, hal. 33, no. 121. Darul Kutub al Islamiyah).
Belum lagi keadilan Islam dalam pembagian waris yang amat detil dan proporsional, yang tidak kita temukan dalam agama lain. Kaum feminis yang selalu sinis menggugat perbandingan 2:1 pembagian waris antara laki-laki dan perempuan. Maunya mereka sama rata. Ini menunjukkan kecerobohan mereka dalam berfikir. Adil tidak berarti sama rata, jika Anda memberikan uang masing-masing Rp. 50.000,- kepada siswa SMA, SMP, dan kelas 1 SD. Adilkah? Tidak! Sebab siswa SMA dan SMP merasa kurang dengan Rp. 50.000,- karena kebutuhan mereka lebih dari itu dalam sepekan. Tetapi bagi siswa kelas 1 SD, uang senilai itu ia tidak mengerti untuk apa. Laki-laki mendapat dua bagian dari wanita dalam hak waris dalam Islam. sebab si laki-laki akan menggunakan uangnya untuk isteri dan anaknya, sedangkan si wanita uang yang ia dapatkan tidak berkurang, justru bertambah dari suaminya, apalagi jika ia punya penghasilan juga.
Keadilan Islam juga nampak dalam menyikapi hak kepemilikan harta. Kaum komunis dan sosialis mengingkari kepemilikan pribadi, bahkan mereka menganggap hak kepemilikan pribadi merupakan sumber segala kehancuran, kehancuran, dan penyelewengan. Hak prbadi semua harus dikembalikan kepada negara, sehingga tidak ada kaya dan miskin di masyarakat. Sedangkan kapitalis mengakui hak kepemilikan pribadi secara ekstrim tanpa mempedulikan masyarakat lain, sehingga walau tetangga melarat, negara bangkrut, bukan urusan dan tanggung jawab mereka (rasa-rasanya ini yang terjadi atau dianut di Indonesia tanpa disadari). Bahkan, mereka menganggap Tuhan telah menakdirkan, kalau si miskin tetap miskin Kedua model ini sudah terbukti gagal dalam mensejahterakan rakyatnya. Nah, Islam pertengahan di antara keduanya. Manusia secara individu berhak memiliki harta sesuai usahanya yang halal dan baik, tanpa melupakan hak orang lain yang tidak seberuntung dirinya, seperti adanya zakat, infaq, sadaqah, atau waqaf. Negara diberi wewenang untuk mengelola itu semua untuk sebesar kemakmuran umatnya dibawah prinsip keadilan Islam. Sehingga tidak terjadi kesenjangan antara si kaya dan si miskin, dan permusuhan antara pemilik modal dengan negara.
Islam memandang, adanya kaya dan miskin, adalah sunatullah kehidupan yang tidak bisa diingkari. Sedangkan pengabdian kepada negara Islam dengan pemimpinnya yang shalih, adalah bagian dari perintah agama, athi’ullaha wa athi’urrasul wa ulil amri minkum “.
5. Asy Syamil wal Mutakamil (Sempurna dan saling melengkapi)
Allah Jalla wa jalla berfirman:
”Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An Nahl (16): 89)
Berkata Al Ustadz Asy Syahid Hasan al Banna rahimahullah:
“Islam adalah nizham (tatanan) sempurna yang mencakup seluruh sisi kehidupan. Dia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, rahmat dan keadilan, wawasan dan undang-undang, ilmu dan ketetapan, materi dan kekayaan alam, atau penghasilan dan kekayaan, jihad dan da’wah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana dia adalah aqidah yang benar serta ibadah yang sahih, tidak lebih tidak kurang.” (Al Imam Asy Syahid Hasan al Banna, Majmu’ah ar Rasail, hal. 305. Maktabah at Taufiqiyah, Kairo. tanpa tahun)
Di atas adalah ucapan tokoh Islam sendiri, bisa jadi dianggap tidak objektif. Tetapi bagaimana jika itu pula yang dikatakan para orientalis seperti, Dr. V. Fitzgerald, C.A. Nallino, Dr. Schacht, R. Strothman, D.B. Macdonald, Sir T. Arnold, Gibb, mereka semua mengatakan Islam bukan sekedar agama, tetapi juga tatanan politik, negara, kekuasaan, hukum dan perundang-undangan. (Min fiqh ad daulah, Dr. Yusuf al Qaradhawy). Apakah pandangan “orang luar” ini tidak cukup memuaskan bagi kalangan yang menuduh tidak ada negara dalam Islam?
Ya, Islam adalah agama yang amat sempurna. Dari urusan yang dianggap sepele hingga sangat kompleks, Islam punya aturan. Adab hendak tidur hingga bangun, adab hendak ke kamar mandi hingga aktivitas di dalamnya serta selesainya, adab hendak makan hingga selesainya, adab berkendara dan di jalan, adab berpakaian, makan, minum, berias, memakai alas kaki, berkunjung ke rumah orang lain, semua ada aturan secara detail. Semua tidak kita temukan dalam ajaran agama apa pun. Apalagi hal yang lebih besar, seperti mencari nafkah, pembinaan keluarga dan masyarakat, pinjam meminjam, utang piutang, hubungan antar keluarga dan tetangga bahkan negara, memilih pemimpin, etika perang, menuntut ilmu, belum lagi tata cara peribadatannya.
Bahkan Islam sebagai agama sempurna, sangat antisipatif terhadap perkembangan zaman dan kemajuannya. Islam memberikan jawaban terhadap perilaku ekonomi yang belum ada pada masa lalu, seperti surat-surat berharga, bursa efek, atau masalah kedokteran yang belum ada pada masa lalu seperti transplantasi, euthanasia, cloning, dan lain-lain.
Oleh karena itu, ulama Islam tidaklah dinamakan rohaniawan, sebab mereka tidak hanya mengurus jiwa manusia. Imam Abu Hanifah, ia adalah seorang pedagang pakaian yang sukses. Imam al Ghazaly seorang faqih bermadzhab syafi’i, ia juga seorang psikolog dan sosiolog. Imam Ibnu Rusyd seorang faqih madzhab maliki pengarang Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, ia juga seorang filsuf dan dan dokter. Imam Fakhrurrazi pengarang Tafsir Al kabir, ia juga seorang dokter. Berbeda dengan Pastur, Pendeta, Rabi, dan Bikshu, mereka disebut rohaniawan atau agamawan, sebab yang mereka urusan adalah jiwa dan agama saja. Mereka disebut biarawan, wanitanya disebut biarawati. Ulama tidak pernah disebut –misalnya- masjidiwan. .
Hanya saja di sini ada pertanyaan besar. Jika memang Islam begitu sempurna hingga mengatur urusan kenegaraan, kenapa tak satu pun negeri muslim menggunakan Syariat Islam sebagai dasar negara secara utuh? Padahal kita punya konsep, koq tidak digunakan. Sementara Kristen tidak ada konsep tetapi ada negera yang tegas menyebut diri negara Katolik Vatikan! Konsep apa yang mereka digunakan? Bahkan yang bukan agama seperti sekulerisme (Turki), sosialisme (Irak), komunisme (RRC), kapitalisme (Amerika Serikat), ada negara yang menggunakannya sebagai ideologi negara. Kenapa ini?
Jawabannya adalah pertama, para penguasa di negeri-negeri muslim adalah orang tidak mengerti, atau mengerti tetapi tidak mau, atau mengerti tetapi tidak mampu, atau memang anti Islam. Mereka menerima dengan terbuka jika Islam hanya berbicara shalat, dzikir, dan haji, namun dengan Islam ideologis, berbicara kepemimpinan dan kekuasaan, mereka menghadapi dengan tangan besi.
Kedua, sudah ada yang menggunakannya, seperti Pakistan ketika Zia ul Haq menjadi kepala pemerintahan, ia menerapkan Syariat Islam. Namun konspirasi Barat dan kaum munafiq di Pakistan, telah membunuhnya pada 17 Agustus 1988, pesawat yang ditumpanginya diledakkan. Jadi, dunia tidak marah dan ridha dengan lahirnya negara katolik, sosialis, komunis, kapitalis, pancasilais, dan lain-lain, tetapi mereka murka jika lahirnya Negara Islam, embargo PBB menunggu, hak veto siap diluncurkan, pokoknya asal jangan Islam! Inilah ketidakadilan negara-negara dunia terhadap umat Islam. Memang, sejak kapan mereka adil terhadap dunia Islam? Fa’tabiruu ya ulil abshaar!
6. Al Murunah (Fleksibel antara yang tetap- tsawabit, dan berubah – mutaghayyirat)
Islam memiliki muatan yang tetap, tidak berubah selamanya baik ditambah, dikurang, dipindah. Seperti Rukun Islam, Rukun Iman, arah kiblat, kalimat syahadat, waktu puasa ramadhan, waktu-waktu shalat wajib, tempat haji dan umrah, waktu haji, jumlah rakaat shalat wajib (kecuali qashr, itu jika syarat terpenuhi, dan hanya zhuhur, ashar, isya)
Sejak awal pensyariatannya, sampai nanti tidak berubah bahwa; Idul fithri adalah 1 Syawal, wukuf 9 Zulhijjah, Idul Adha 10 Zulhijjah, ayamut tasyrik 11,12,13 Zulhijjah dan haram berpuasa ketika hari raya dan ayamut tasyrik, tidak dibenarkan haji dibukan bulannya, nikah muth’ah adalah haram, shalat fardu adalah fardhu, shalat sunah adalah sunah, dan sebagainya. Jadi, inilah syariat Islam. Tetap sepanjang masa dan di mana saja. Adapun yang berubah bukannya syariat, melainkan fatwa atau ijtihad.
Fatwa dan ijtihad para ulama bisa berubah dan berbeda, karena perbedaan zaman, kondisi, kebiasaan, dan “mungkin- watak manusia. Dahulu ini itu dilarang, sekarang dibolehkan karena kondisi sudah berubah. Dahulu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang ziarah kubur, akhirnya ia membolehkan bahkan menganjurkannya, ketika aqidah umat Islam saat itu sudah menghujam. Dahulu Rasulullah melarang menulis hadits, sebab khawatir mereka melalaikan Al Qur’an atau tercampur dengan Al Qur’an, namun ketika ilmu mereka sudah mapan dan banyak yang hapal Al Qur’an, justru Rasulullah memerintahkan menuliskan dan menyampaikan hadits-haditsnya. Allah Jalla wa jalla memerintahkan untuk menahan diri dari jihad ketika keadaan umat Islam masih sedikit dan lemah, justru yang diperintahkan adalah da’wah dan sabar, tetapi ketika sudah kuat dan jumlah memadai, Allah Jalla wa jalla memberikan izin dengan ayat Udzina lilladzina yuqataluna biannahum zhulimu “Telah diizinkan (untuk berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena mereka telah dizalimi “
Imam Ibnu Abidin berkata dalam Hasyiah-nya, “Masalah-masalah fiqhiyah adakalanya ditetapkan hukumnya berdasarkan nash (teks) yang jelas (sharih) dan adakalanya ditetapkan melalui ijtihad. Pada umumnya, seorang mujtahid menetapkan hukum berdasarkan kebiasaan yang berkembang pada zamannya. Seandainya ia berada pada zaman yang lain dengan kebiasaan yang baru, niscaya ia akan mengeluarkan pendapat bahwa mujtahid harus mengenali kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di tengah masyarakat. Dapat dimengerti jika banyak ketetapan hukum berbeda-beda lantaran perbedaan zaman. Dengan kata lain, jika suatu diktum hukum ditetapkan seperti sediakala, niscaya timbul banyak kesulitan (masyaqqat) dan keburukan (mudharat) bagi manusia.”
Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah dalam “lamul Muwaqi’-nya berkata, Seorang faqih adalah orang yang mengaplikasikan secara sinkron nilai yang ideal dan nilai yang sedang terjadi, karena setiap masa memiliki ketentuan hukum tersendiri dan manusia cermin kemiripan dengan kondisi masa mereka seperti kemiripan mereka dengan orang tua mereka.”
Para Imam telah mencontohkan, bahwa fatwa dan ijtihad mereka bias berubah karena perbedaan zaman, kondisi, dan tempat. Imam Nashirus Sunah Asy Syafi’ Radhiallahu ‘Anhu memiliki kumpulan pandangan fiqihnya ketika masih di Baghdad yang disebut dengan Qaul Qadim (pendapat lama), ketika ia hijrah ke Mesir ia merevisinya menjadi Qaul Jadid (pendapat baru), karena perbedaan kondisi dan kebiasaan masyarakat Baghdad dan Mesir.
Seorang ulama pengikut madzhab maliki, pernah memelihara anjing untuk menjaga rumah atau kebunnya. Padahal Imam Malik memakruhkannya. Lalu ada seorang bertanya, “Kenapa engkau memelihara anjing, bukankah Imam Malik membencinya?, Ulama itu menjawab, “Seandainya Imam Malik masih hidup, niscaya bukan anjing yang dipelihara, tetapi singa!” Jawaban ulama ini dikarenakan zaman ia hidup berbeda dengan zaman Imam Malik, kejahatan sangat banyak, maka jika Imam Malik yang membenci memelihara anjing hidup di zaman itu, niscaya akan merubah pendapatnya, bukan hanya anjing tetapi singa juga boleh.
Contoh lain, Imam Taqiyuddin As Subki, Syaikhul Azhar Musthafa al Maraghi, dan Al ‘Allamah Yusuf al Qaradhawy hafizhahullah, berpendapat untuk menentukan awal Ramadhan dan awal Syawal, lebih utama menggunakan hisab, bukan ru’yah. Karena kemajuan zaman telah mengantarkan manusia pada ilmu yang lebih pasti yaitu ilmu falak. Sedangkan ruyatul hilal (melihat bulan sabit) yang dilakukan oleh manusia mungkin saja keliru atau mungkin benar, bisa jujur atau dusta. Tentunya, yang jelas kepastiannya harus didahulukan dibanding yang masih serba mungkin (muhtamal).
Pendapat ini ditentang oleh banyak ulama, juga seorang ulama hadits Mesir Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah. Namun akhirnya, Syaikh Ahmad Syakir merevisi pendapatnya, ia mengatakan, “Dulu aku dan beberapa saudaraku termasuk di antara orang-orang yang menentang Al Ustadz Al Akbar (Maksudnya Syaikh Musthafa al Maraghi) dalam pendapatnya. Namun sekarang saya tegaskan bahwa beliaulah yang benar. Bahkan aku tambahkan wajib hukumnya menggunakan hisab dalam menentukan bulan-bulan dalam segala situasi dan keadaan, kecuali bagi orang yang tidak menguasai ilmu hisab.” (Fatawa Mu’ashirah, II/222)
Jadi, perubahan tersebut bukan hanya seorang ulama meralat pendapatnya yang lama, tetapi juga seorang ulama meralat pendapat gurunya atau kawannya, karena sebab-sebab yang dibenarkan. Wallahu A’lam bish Shawab wa Lillahil ‘Izzah
________________________________________
[1] Tidak sedikit ulama yang hingga akhir hayatnya tidak menikah, seperti Imam Bukhari, Imam Ibnu Taimiyah, Imam an Nawawi, juga Syahidul Islam Sayyid Quthb. Mereka melakukannya bukan karena keinginannya untuk membujang. Melainkan karena kesibukan dan pengabdiannya yang luar biasa terhadap ilmu pengetahuan dan jihad. Ada buku yang berisi kehidupan para ulama yang tidak menikah dikarang oleh tokoh Ahli Hadits Ikhwan, yakni al ‘Allamah Abdul Fattah Abu Ghuddah yang berjudul Al Ulama Al ‘Uzzab.

September 24, 2008 Posted by | Uncategorized | 2 Komentar